MIU Login

Pramuka UIN Malang Benahi Standar Acara Lewat Pelatihan Protokoler

Kemahasiswaan Universitas — Upaya membenahi standar pelaksanaan kegiatan mahasiswa mulai diarahkan pada aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni keprotokoleran. UKM Pramuka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merespons kebutuhan ini melalui kegiatan PEMIKAT (Pelatihan Minat dan Bakat) Protokoler yang digelar pada Minggu, 26 April 2026 di Sanggar Pramuka.

Pelatihan ini tidak berhenti pada transfer pengetahuan teknis, melainkan diarahkan sebagai instrumen pembenahan standar internal organisasi. Bidang OPSDIKLAT sebagai pengampu kegiatan menempatkan keprotokoleran sebagai kompetensi dasar yang perlu dimiliki setiap anggota. Pilihan ini berangkat dari kesadaran bahwa kualitas pelaksanaan kegiatan mahasiswa sering kali ditentukan oleh kesiapan sistem pendukung, bukan semata substansi acara.

Dalam praktiknya, 23 peserta terlibat dalam pembelajaran yang dirancang interaktif. Materi difokuskan pada tata cara tempat dan tata cara penghormatan, dua elemen yang kerap luput dari perhatian namun berdampak langsung pada legitimasi acara. Penempatan tamu berdasarkan kedudukan, urutan penyambutan, hingga etika interaksi menjadi bagian dari latihan yang menuntut ketelitian sekaligus sensitivitas sosial.

Saiful Hikmah selaku pembina Pramuka UIN Malang menegaskan posisi strategis keprotokoleran dalam ekosistem kegiatan. Ia menyampaikan bahwa “Protokoler, MC, dan humas berada dalam satu kesatuan fungsi yang saling berkaitan. Humas mengelola komunikasi publik, MC memandu jalannya acara, sementara protokoler memastikan keseluruhan sistem berjalan sesuai rencana.” Pernyataan ini memperjelas bahwa keprotokoleran bukan sekadar pelengkap, melainkan kerangka kerja yang mengintegrasikan berbagai peran dalam satu alur yang terstruktur.

Dari sisi kelembagaan, langkah ini mencerminkan upaya transformasi organisasi menuju tata kelola yang lebih profesional. Ketua UKM Pramuka, Hartadin Barka, mendorong agar hasil pelatihan tidak berhenti pada forum belajar, tetapi diimplementasikan dalam setiap kegiatan organisasi. Dorongan tersebut menjadi penting mengingat dinamika kegiatan kemahasiswaan menuntut standar pelaksanaan yang konsisten dan adaptif.

Kegiatan yang berlangsung tertib ini ditutup dengan refleksi bersama, menandai komitmen peserta untuk membawa praktik keprotokoleran ke dalam aktivitas organisasi sehari-hari. Antusiasme peserta sepanjang sesi menunjukkan adanya kebutuhan riil terhadap penguatan kompetensi ini, terutama dalam menghadapi kompleksitas kegiatan yang semakin beragam.

Ke depan, penguasaan keprotokoleran berpotensi menjadi fondasi dalam membangun budaya organisasi yang disiplin dan akuntabel. Lebih jauh, inisiatif semacam ini selaras dengan penguatan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pembinaan mahasiswa sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pengembangan soft skills. Ketika standar internal berhasil ditata, kualitas kegiatan bukan lagi sekadar target, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang bekerja dengan baik.

 

发表回复

您的邮箱地址不会被公开。 必填项已用 * 标注

Berita Terkait