MIU Login

Kepala Biro AAKK UIN Malang Bekali Mahasiswa Baru Kenali Layanan Kampus dan Target Lulus Empat Tahun

Kemahasiswaan Universitas — Memasuki kehidupan perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mengikuti perkuliahan. Mereka juga perlu memahami ke mana harus mencari informasi, siapa yang dapat dihubungi ketika menghadapi persoalan akademik, serta bagaimana memanfaatkan berbagai layanan yang tersedia di kampus.

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ita Hidayatus Sholihah, S.Ag., M.M., saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Malang 2026, Selasa (18/9).

Ita memperkenalkan AAKK sebagai salah satu unit yang bersentuhan langsung dengan berbagai kebutuhan mahasiswa, mulai dari layanan akademik, kemahasiswaan, hingga kerja sama kelembagaan.

Namun, ia mengingatkan mahasiswa baru bahwa biro di tingkat universitas bukan selalu menjadi tempat pertama yang harus didatangi ketika menghadapi persoalan.

Untuk urusan akademik, misalnya, mahasiswa dapat terlebih dahulu berkonsultasi dengan program studi, dosen wali, maupun pihak fakultas. Di tingkat fakultas terdapat dekanat dengan bidang masing-masing, termasuk Wakil Dekan Bidang Akademik dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.

“Pilih unit yang tepat, datang sesuai jenis kebutuhan,” pesannya.

Menurut Ita, pemahaman terhadap alur layanan tersebut akan membantu mahasiswa menyelesaikan persoalan dengan lebih cepat sekaligus menghindari kesimpangsiuran informasi.

Di tengah derasnya informasi digital, Ita juga memberikan perhatian khusus pada cara mahasiswa memperoleh informasi.

Ia meminta mahasiswa baru tidak langsung mempercayai informasi yang beredar melalui grup percakapan tanpa memastikan sumbernya.

“Jangan gampang menerima informasi dari informan yang tidak valid,” tegasnya.

Mahasiswa diminta membiasakan diri melakukan verifikasi melalui kanal resmi universitas. Menurutnya, informasi yang menyangkut akademik, kemahasiswaan, maupun layanan kampus harus diperoleh dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga memperkenalkan laman resmi UIN Malang yang telah mengalami pembaruan dan rebranding sebagai MIU (Maliki Islamic University) sebagai salah satu sumber informasi yang dapat dirujuk mahasiswa.

Kebiasaan memeriksa informasi secara langsung dinilai penting agar mahasiswa tidak terjebak pada informasi “katanya” yang belum jelas kebenarannya.

Sebagai bagian dari layanan kemahasiswaan, mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai ruang pengembangan diri yang tersedia di kampus.

Ita mengajak mahasiswa baru aktif menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan bakat mereka melalui berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pilihannya beragam, mulai dari olahraga, kegiatan alam, seni, hingga aktivitas kemahasiswaan lainnya.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Organisasi dan kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi ruang untuk mengasah kemampuan, membangun pengalaman, serta memperluas pertemanan.

Sementara dalam urusan akademik, mahasiswa akan berinteraksi dengan Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) yang mengelola berbagai sistem informasi akademik.

Melalui Sistem Informasi Akademik (Siakad), berbagai aktivitas akademik mahasiswa dapat tercatat dan dipantau. Mulai dari mata kuliah yang diprogram, hingga perkembangan nilai.

Sistem tersebut juga menjadi bagian dari upaya universitas menghadirkan layanan akademik yang semakin terdigitalisasi.

Ita mengingatkan mahasiswa agar memahami sistem tersebut sejak awal dan tidak mengabaikan kewajiban akademik maupun administratif yang dapat memengaruhi status mahasiswa.

Empat Tahun, Empat Tahap Perjalanan

Di tengah padatnya aktivitas mahasiswa baru—mulai dari perkuliahan, pembelajaran bahasa, kehidupan Ma’had Al-Jami’ah, hingga kegiatan kemahasiswaan—Ita mengingatkan pentingnya kemampuan mengatur waktu.

Mahasiswa baru UIN Malang, kata dia, perlu mulai membangun ritme belajar sejak semester pertama. Sebab, perjalanan empat tahun di perguruan tinggi akan berlangsung cepat apabila dijalani dengan target yang jelas.

Ia membagi perjalanan mahasiswa ke dalam empat tahap:

Semester 1–2 sebagai masa adaptasi, semester 3–4 untuk eksplorasi, semester 5–6 sebagai fase akselerasi, dan semester 7 sebagai tahap menuju penyelesaian studi.

Targetnya jelas: mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan dalam delapan semester.

“Saya berharap adik-adik di sini tidak melebihi semester yang sudah digariskan, delapan semester. Jadi empat tahun harus siap lulus dan berprestasi,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar mahasiswa tidak menunggu hingga tingkat akhir untuk mulai memikirkan kelulusan. Perencanaan studi, pengelolaan waktu, aktivitas kemahasiswaan, hingga pengembangan kompetensi perlu dipersiapkan sejak semester awal.

Bagi Ita, memahami sistem kampus sama pentingnya dengan memahami materi perkuliahan. Mahasiswa yang mengetahui ke mana harus mencari informasi, siapa yang harus dihubungi, dan bagaimana memanfaatkan fasilitas yang tersedia akan lebih siap menjalani kehidupan akademik.

Di akhir pemaparannya, ia mengajak mahasiswa baru meneguhkan semangat untuk menjalani masa studi dengan sungguh-sungguh.

“Maliki Muda!”

“Siap berprestasi!” jawab mahasiswa baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait