Kemahasiswaan Universitas — Perubahan iklim dan meningkatnya suhu kawasan perkotaan menuntut cara pandang baru dalam merancang lingkungan binaan. Tidak lagi sekadar mengejar estetika, desain arsitektur dan kawasan perkotaan dituntut mampu menghadirkan ruang yang nyaman, sehat, berkelanjutan, sekaligus adaptif terhadap tantangan iklim.

Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam Talkshow ARRIVAL (Architecture Virtual Lecture Series) bertajuk “Designing Cooler Cities” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Teknik Arsitektur UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kegiatan yang merupakan program kerja Divisi Pengembangan Perencanaan Karya tersebut digelar secara daring dan diikuti sekitar 100 peserta. Mahasiswa Teknik Arsitektur dan peserta umum diajak melihat kembali bagaimana keputusan desain dapat berkontribusi terhadap kualitas lingkungan perkotaan.
Talkshow menghadirkan Ar. Armudya Indra Permana, IAI dan Angga Perdana M., Ars. sebagai narasumber, dengan Imam Faqihuddin M. T. sebagai moderator. Pembahasan diarahkan pada konsep cooler cities, strategi desain kawasan yang lebih ramah iklim, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam arsitektur dan lingkungan binaan.
Dalam pemaparannya, Ar. Armudya Indra Permana menekankan bahwa kualitas sebuah kota tidak cukup diukur dari tampilan visualnya. Menurutnya, perancangan kota juga harus menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus merespons persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
“Perancangan kota yang baik bukan hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga harus mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat serta merespons tantangan perubahan iklim melalui pendekatan desain yang berkelanjutan,” ujarnya.
Perspektif serupa disampaikan Angga Perdana M., Ars. Ia menilai arsitek memiliki posisi strategis dalam membentuk lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan layak huni. Karena itu, pertimbangan terhadap aspek lingkungan perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari proses perancangan, bukan sekadar pelengkap.
“Arsitek memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat, adaptif, dan layak huni. Oleh karena itu, setiap proses perancangan perlu mempertimbangkan aspek lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari desain,” tuturnya.
Materi yang disampaikan kemudian berkembang dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta berkesempatan membahas berbagai persoalan terkait desain perkotaan, kenyamanan termal, keberlanjutan, hingga tantangan penerapan desain adaptif terhadap perubahan iklim.
Ketua HMPS Teknik Arsitektur, Ahmad Affan Annabawi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif di luar pembelajaran di kelas.
“Talkshow ARRIVAL menjadi wadah berbagi ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa Teknik Arsitektur. Semoga wawasan yang diperoleh dapat menjadi inspirasi dalam merancang lingkungan binaan yang lebih nyaman, berkelanjutan, dan responsif terhadap tantangan perubahan iklim di masa depan,” ujarnya.
Melalui ARRIVAL, HMPS Teknik Arsitektur UIN Malang tidak hanya mendorong mahasiswa memahami perkembangan keilmuan arsitektur, tetapi juga mengajak mereka melihat persoalan perkotaan secara lebih luas. Tantangan perubahan iklim pada akhirnya menempatkan arsitektur bukan hanya sebagai persoalan bentuk dan ruang, melainkan bagian dari upaya membangun kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.





