Kemahasiswaan Universitas — Organisasi mahasiswa tidak cukup berkembang hanya dengan mengandalkan pengalaman internal. Pertukaran gagasan, sistem kerja, dan praktik organisasi yang baik menjadi kebutuhan penting untuk menjawab tantangan pengelolaan organisasi yang semakin dinamis. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Studi Banding antara HMPS Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan HMP QIS’AR Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut diikuti sekitar 120 peserta dari kedua organisasi. Forum ini menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperluas wawasan mengenai tata kelola organisasi kemahasiswaan yang efektif dan adaptif terhadap perkembangan kebutuhan mahasiswa.
Bagi HMPS BSA, studi banding tidak diposisikan sebagai kunjungan seremonial semata. Kegiatan ini dirancang sebagai proses benchmarking untuk mempelajari berbagai praktik baik yang telah diterapkan organisasi mitra, mulai dari sistem administrasi, pola kaderisasi, manajemen program kerja, hingga strategi pengembangan sumber daya anggota.
Melalui diskusi yang berlangsung interaktif, peserta memperoleh gambaran mengenai berbagai pendekatan yang diterapkan masing-masing organisasi dalam menjalankan roda kepengurusan. Perbedaan latar belakang, budaya organisasi, dan pengalaman kelembagaan justru menjadi sumber pembelajaran yang memperkaya perspektif kedua belah pihak.

Ketua HMPS BSA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ahmad Firjaun Balya Barlaman, menilai kegiatan semacam ini penting untuk membuka ruang evaluasi sekaligus inovasi dalam pengelolaan organisasi mahasiswa. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dan belajar dari pengalaman organisasi lain menjadi salah satu kunci dalam menciptakan organisasi yang progresif dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Sementara itu, Ketua HMP QIS’AR UNS, Muhammad Nafil, menyambut positif kolaborasi yang terjalin melalui program studi banding tersebut. Forum ini dinilai mampu memperkuat jaringan antarmahasiswa sekaligus menjadi sarana bertukar ide yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan organisasi masing-masing.
Selain menjadi ruang berbagi pengalaman, kegiatan ini juga mempererat hubungan kelembagaan antarhimpunan mahasiswa dari dua perguruan tinggi. Interaksi yang terbangun selama kegiatan menunjukkan bahwa kolaborasi antarlembaga mahasiswa memiliki peran penting dalam menciptakan budaya organisasi yang terbuka terhadap perubahan dan inovasi.
Ketua pelaksana kegiatan, Gusti Ainul Yaqin, berharap hasil diskusi yang diperoleh selama studi banding tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat, melainkan dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret dalam penguatan program kerja dan tata kelola organisasi di masa mendatang.
Studi banding ini menunjukkan bahwa pengembangan organisasi mahasiswa tidak selalu lahir dari ruang rapat internal. Terkadang, kemajuan justru berawal dari keberanian untuk belajar dari pengalaman pihak lain. Melalui proses saling bertukar gagasan dan praktik baik, organisasi mahasiswa dapat membangun sistem yang lebih matang, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan kemahasiswaan yang terus berkembang.
Ikuti informasi dan kegiatan mahasiswa lainnya melalui media sosial resmi Kemahasiswaan UIN Malang:
Instagram/FB/TikTok: @kemahasiswaanuinmlg.





