Kemahasiswaan Universitas — Rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memasuki hari terakhir pada Rabu (19/8). Bertempat di Gedung Jenderal Besar Soeharto, Sport Center Kampus 1, kegiatan diisi dengan berbagai agenda pembekalan yang dirancang untuk memperkuat kesiapan mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan akademik dan kemahasiswaan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Sejak pagi, suasana Sport Center dipenuhi mahasiswa baru. Kegiatan diawali dengan opening dan ice breaking yang membangun suasana hangat dan interaktif. Semangat mahasiswa baru juga semakin terasa melalui sejumlah penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), di antaranya UKM PSM dan UKM Kommust.
Selain pengenalan berbagai aspek kehidupan kampus, mahasiswa baru mendapatkan sejumlah materi yang berkaitan dengan kehidupan akademik dan kemahasiswaan. Materi disampaikan oleh unsur universitas, mulai dari Biro Administrasi Akademik (BAK), Perpustakaan, hingga Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA). Mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan peran lembaga kemahasiswaan melalui sesi bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA U) dan Senat Mahasiswa Universitas (SEMA U), yang dilengkapi dengan sesi tanya jawab.
Salah satu agenda utama pada hari terakhir tersebut adalah pembekalan bersama Dr. H. M. Hasanuddin Wahid, M.Hum., Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Sekjen DPP PKB. Dalam kesempatan tersebut, Hasanuddin Wahid menyampaikan materi bertajuk “Menavigasi Disrupsi BANI-AI Menuju Indonesia Emas 2045: Merajut Cahaya Dharma di Tengah Realitas 1 Juta Sarjana Menganggur.”
Dalam pembekalannya, mahasiswa baru diajak memahami perubahan dunia yang semakin cepat dan kompleks. Kerangka BANI yang terdiri atas Brittle (rapuh), Anxious (cemas), Non-linear (tidak linear), dan Incomprehensible (sulit dipahami) digunakan untuk menggambarkan kondisi dunia yang dihadapi generasi muda saat ini. Perubahan tersebut semakin kuat dengan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membawa sekaligus ancaman dan peluang baru.
Hasanuddin Wahid juga mengingatkan mahasiswa mengenai realitas pasar kerja. Berdasarkan materi yang disampaikan, terdapat lebih dari satu juta lulusan D4-S3 berstatus penganggur pada Mei 2026. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa gelar akademik saja tidak cukup untuk menjamin kesiapan seseorang memasuki dunia kerja. Mahasiswa perlu membangun kemampuan, pengalaman, portofolio, jejaring, serta karakter sejak awal masa perkuliahan.
Pembekalan juga menyoroti perubahan lanskap pekerjaan akibat perkembangan kecerdasan buatan. Di satu sisi, sejumlah pekerjaan entry-level diperkirakan terdampak oleh otomatisasi, namun di sisi lain muncul peluang pekerjaan baru. Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menguasai AI secara kritis dan bertanggung jawab.
“Mahasiswa harus menguasai AI, bukan menjadi alat bagi AI,” menjadi salah satu pesan penting dalam materi tersebut. Penggunaan AI, menurut materi pembekalan, harus disertai literasi kritis agar mahasiswa tidak kehilangan kedaulatan berpikir, terjebak dalam sanad fiktif, maupun mengalami atrofi kognitif akibat ketergantungan terhadap teknologi.
Dalam konteks pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pembekalan tersebut juga menekankan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman. Melalui konsep epistemologi pohon ilmu, mahasiswa diajak melihat Al-Qur’an dan Hadis sebagai akar spiritual, sementara berbagai disiplin ilmu modern berkembang sebagai cabang keilmuan yang tetap terhubung dengan fondasi tersebut. Ilmu pada akhirnya diarahkan untuk menghasilkan kemanfaatan dan pengabdian kepada masyarakat.
Hasanuddin Wahid juga memaparkan empat modal non-transkrip yang perlu dibangun mahasiswa selama menjalani perkuliahan, yaitu kedalaman ilmu, jejak karya, silaturahmi dan jejaring, serta karakter. Keempatnya menjadi bekal penting agar mahasiswa memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar nilai akademik ketika memasuki dunia profesional.
Di akhir pembekalan, mahasiswa baru diajak membawa tiga komitmen utama: menjaga kehormatan keilmuan, mengabdi pada kemanusiaan, dan merajut Cahaya Dharma. Ketiganya menjadi landasan agar perjalanan mahasiswa selama empat tahun tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga menghasilkan karya, karakter, kepedulian sosial, dan kontribusi bagi masyarakat.
Setelah pembekalan, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian cendera mata dan sertifikat serta foto bersama sebagai bentuk apresiasi atas kehadiran dan kontribusi pemateri dalam rangkaian PBAK Universitas.
Hari terakhir PBAK ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa baru untuk melihat kehidupan perkuliahan bukan sekadar sebagai perjalanan memperoleh gelar, melainkan sebagai proses membangun kapasitas diri menghadapi perubahan zaman. Tantangan dunia kerja, perkembangan AI, perubahan sosial, hingga kebutuhan akan karakter dan integritas menjadi bagian dari realitas yang perlu dipersiapkan sejak mahasiswa memulai langkah pertamanya di kampus.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu menjalani empat tahun perkuliahan dengan lebih terarah: datang sebagai pembelajar yang haus ilmu, berproses sebagai pribadi yang tahan uji, dan kelak kembali ke tengah masyarakat sebagai pemimpin yang berkarakter Ulul Albab.





