MIU Login

Menenun Harmoni dalam Musyawarah: Perjalanan Raker UKM Seni Religius 2026 di Yayasan Madrasah Qita

Kemahasiswaan UniversitasSuasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti ruang pertemuan di Yayasan Madrasah Qita pada Jumat siang, 20 Februari 2026. Empat puluh pengurus UKM Seni Religius duduk melingkar, sebagian dengan berkas rancangan program kerja di tangan, sebagian lain sibuk berdiskusi ringan sebelum forum dimulai. Selama tiga hari hingga Minggu, 22 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, ruang itu menjadi saksi bagaimana gagasan, perbedaan pendapat, dan harapan dirangkai menjadi arah gerak bersama untuk satu periode kepengurusan ke depan.

Rapat Kerja ini bukan sekadar agenda rutin awal periode setelah pelantikan, melainkan ruang pembelajaran kolektif tentang arti tanggung jawab. Satu per satu bidang memaparkan program kerja yang akan dijalankan sejak akhir Februari hingga akhir November 2026, sebelum tutup buku organisasi. Di balik paparan formal, tersimpan dinamika emosional—ada rasa gugup saat menyampaikan ide, ada antusiasme ketika gagasan disambut, dan ada kelegaan ketika musyawarah mencapai mufakat. Ketua UKM, M. Zaim Izzaty, terlihat aktif menjembatani diskusi, memastikan setiap suara mendapat ruang yang setara.

Dalam sesi refleksi, narasumber Fajar Bayu Rahmatullah, S.H., mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan amanah organisasi. “Dengan diadakannya Raker ini, dengan seluruh musyawarah persetujuan dari semua anggota, semoga ke depannya kita bisa saling melengkapi, merangkul, membersamai selama satu periode ke depan,” ujarnya. Bagi para peserta, pesan tersebut terasa personal. Salah satu pengurus mengungkapkan bahwa forum ini memberinya keberanian untuk menyampaikan gagasan dan belajar menerima kritik sebagai bagian dari proses pendewasaan berorganisasi.

Kepala Pusat Kemahasiswaan Universitas dalam keterangannya menegaskan bahwa Raker merupakan fondasi penting bagi tata kelola organisasi mahasiswa. “Rapat kerja bukan hanya tentang menyusun program, tetapi tentang membangun komitmen, integritas, dan budaya kolaboratif. Di sinilah karakter kepemimpinan mahasiswa ditempa melalui proses musyawarah yang dewasa dan bertanggung jawab,” tuturnya. Perspektif kelembagaan ini menegaskan bahwa dinamika yang terjadi selama tiga hari tersebut merupakan bagian dari pembinaan kepemimpinan yang lebih luas di lingkungan universitas.

Menjelang penutupan pada Minggu malam, suasana terasa berbeda dari hari pertama. Wajah-wajah yang awalnya tegang kini tampak lebih mantap dan optimistis. Raker bukan hanya menghasilkan daftar program kerja, tetapi juga mempererat rasa memiliki dan keyakinan untuk melangkah bersama. Dari ruang sederhana di Yayasan Madrasah Qita, para pengurus UKM Seni Religius membawa pulang lebih dari sekadar dokumen perencanaan—mereka membawa pengalaman kolektif tentang arti harmoni, komitmen, dan perjalanan bertumbuh dalam satu periode pengabdian.

Berita Terkait