MIU Login

SEMA FST UIN Malang dan BPM FTD Ma Chung Perkuat Tata Kelola melalui Benchmarking Lintas Kampus

Kemahasiswaan Universitas — Upaya penguatan tata kelola organisasi mahasiswa mulai bergerak ke arah kolaborasi lintas kampus sebagai respons atas kebutuhan sistem yang lebih adaptif dan terukur. SEMA Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menangkap momentum tersebut melalui kegiatan benchmarking bersama BPM FTD Universitas Ma Chung yang berlangsung di Auditorium Utara FST, Sabtu 18 April 2026.

Mengusung tema “Connect to Improve”, agenda ini ditempatkan sebagai ruang strategis untuk membangun jejaring legislatif mahasiswa sekaligus mempercepat transfer praktik baik antarorganisasi. Pertemuan dua lembaga ini tidak berhenti pada pertukaran formalitas, melainkan diarahkan pada pembacaan ulang struktur kerja, pola koordinasi, hingga efektivitas program yang selama ini dijalankan di masing-masing institusi.

Sekitar 50 peserta terlibat dalam forum yang mempertemukan dua kultur organisasi berbeda. Interaksi tersebut membuka ruang komparasi yang lebih jujur terhadap kinerja internal, mulai dari mekanisme legislasi mahasiswa hingga pengelolaan aspirasi. Paparan materi dari kedua pihak menjadi titik krusial dalam memetakan keunggulan dan celah perbaikan, sekaligus memantik diskursus tentang standar ideal organisasi kemahasiswaan di tingkat fakultas.

Ketua SEMA FST, Muhammad Syauqiy Ridlo Syamkhobaruhin, menegaskan bahwa benchmarking harus dibaca sebagai instrumen pembenahan sistem, bukan sekadar agenda kunjungan.

“Kegiatan benchmarking ini bukan sekadar kunjungan, melainkan ajang untuk mengokohkan sistem organisasi kita. Mengingat prinsip bahwa ‘kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir’, maka kita di SEMA FST dan BPM FTD Ma Chung perlu terus mengevaluasi dan merapikan sistem yang ada,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan organisasi mahasiswa dalam kerangka yang lebih serius, yakni sebagai entitas yang membutuhkan desain kelembagaan yang kuat agar mampu menjalankan fungsi representasi dan kontrol secara efektif. Melalui dialog yang terbangun, kedua lembaga memperoleh referensi konkret terkait penguatan sistem kerja, termasuk pengelolaan program, distribusi peran, hingga strategi menjaga keberlanjutan organisasi.

Kegiatan ini sekaligus merefleksikan pergeseran orientasi organisasi kemahasiswaan dari aktivitas seremonial menuju pendekatan berbasis kinerja dan dampak. Sesi interaktif dan diskusi yang berlangsung memperlihatkan adanya kebutuhan bersama untuk membangun organisasi yang lebih responsif terhadap dinamika mahasiswa dan tantangan kelembagaan.

Ke depan, hasil benchmarking ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan terimplementasi dalam kebijakan internal dan program kerja yang lebih terstruktur. Dalam kerangka tridarma perguruan tinggi, penguatan kapasitas organisasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam membentuk ekosistem akademik yang partisipatif, kritis, dan berorientasi pada solusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait