MIU Login

MAPALA TURSINA Bawa Anggota Belajar Langsung dari Ekosistem Pesisir Pantai Ngentup

Kemahasiswaan Universitas — Pembelajaran lingkungan tidak cukup berhenti di ruang diskusi dan teori konservasi. Pemahaman ekologis justru terbentuk ketika mahasiswa bersentuhan langsung dengan lanskap alam yang sedang dipelajari. Pendekatan tersebut diterapkan MAPALA TURSINA melalui kegiatan praktik Divisi Lingkungan Hidup yang dilaksanakan di Pantai Ngentup pada Minggu, 10 Mei 2026.

Pantai dipilih bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan ruang belajar terbuka untuk membaca hubungan antara habitat, satwa, dan keseimbangan ekosistem. Dalam praktik lapangan ini, peserta diajak memahami bagaimana kawasan pesisir menyimpan keanekaragaman hayati yang rentan terhadap kerusakan apabila tidak dijaga secara berkelanjutan.

Lima anggota MAPALA TURSINA, yakni Lontar, Wates, Calamus, Pinas, dan Lukas, terlibat langsung dalam observasi lapangan dengan pendampingan dari Katara, Kuni, Jagrak, dan Pekat. Selama kegiatan berlangsung, peserta melakukan pengamatan terhadap kawasan pesisir, aves, serta mamalia yang ditemukan di sekitar lokasi observasi.

Kegiatan dirancang dengan pendekatan eksploratif agar peserta mampu mengenali karakteristik habitat secara nyata. Pengamatan dilakukan secara sistematis melalui pencatatan temuan lapangan, identifikasi kondisi lingkungan, serta analisis sederhana mengenai peran ekosistem pesisir dalam menjaga stabilitas alam sekitar.

Berbeda dengan pembelajaran berbasis teori, praktik lapangan seperti ini memberi pengalaman yang lebih reflektif. Peserta tidak hanya melihat objek lingkungan sebagai materi observasi, tetapi mulai memahami keterhubungan antara manusia dan alam dalam satu sistem yang saling memengaruhi.

Pendamping kegiatan menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologis vital. “Lingkungan pesisir memiliki keanekaragaman hayati yang penting untuk dijaga, karena menjadi habitat bagi berbagai jenis aves dan mamalia,” ujarnya saat memberikan arahan kepada peserta.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan pesisir bukan sekadar ruang wisata alam, melainkan wilayah ekologis yang menopang kehidupan berbagai spesies. Kerusakan habitat di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai kehidupan yang lebih luas, termasuk keseimbangan lingkungan di sekitarnya.

Melalui praktik Divisi Lingkungan Hidup, MAPALA TURSINA memperlihatkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang pendidikan ekologis yang konkret. Pengalaman lapangan semacam ini membangun sensitivitas mahasiswa terhadap isu konservasi sekaligus menanamkan tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan hidup.

Di tengah meningkatnya persoalan ekologis, kegiatan berbasis observasi alam memiliki nilai strategis dalam membentuk generasi yang lebih sadar lingkungan. Dari kawasan pesisir Pantai Ngentup, proses belajar itu berlangsung melalui pengamatan, refleksi, dan interaksi langsung dengan alam yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait