Kemahasiswaan Universitas — Upaya membangun karakter mahasiswa yang tangguh dan adaptif kembali diuji melalui ruang-ruang belajar nonkelas. Di tengah tuntutan kompetensi yang semakin kompleks, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jhepret Club memilih jalur pembinaan berbasis pengalaman lapangan lewat kegiatan Diklat Outdoor yang berlangsung di Taman Wisata Bedengan pada 26 April 2026.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, melainkan dirancang sebagai instrumen strategis untuk membentuk anggota yang profesional dan militan. Pilihan metode outdoor menunjukkan pergeseran pendekatan pembinaan mahasiswa dari yang bersifat teoritis menuju praktik langsung yang menuntut ketahanan fisik, mental, sekaligus kemampuan bekerja dalam tim.
Sebanyak 132 peserta terlibat aktif dalam rangkaian pelatihan yang disusun oleh UKM Jhepret Club. Mereka dihadapkan pada berbagai simulasi dan tantangan yang menuntut ketepatan pengambilan keputusan, komunikasi efektif, serta kepemimpinan situasional. Pola ini memperlihatkan bahwa organisasi mahasiswa mulai mengadopsi model pembelajaran berbasis experiential learning sebagai respons atas kebutuhan dunia nyata.
Kehadiran Kepala Pusat Kemahasiswaan, Romi Faslah, memperkuat posisi kegiatan ini sebagai bagian dari agenda pembinaan institusional. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam organisasi sebagai medium pembentukan dampak nyata. “Menjadi mahasiswa yang berdampak dapat ditempuh melalui keaktifan dalam organisasi,” ujarnya, menekankan bahwa aktivitas kemahasiswaan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari proses pendidikan tinggi.
Dari sisi kelembagaan, kegiatan ini mencerminkan sinergi antara ormawa dan struktur universitas dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih kontekstual. Pembinaan tidak lagi berhenti pada aspek administratif, tetapi bergerak menuju penguatan kapasitas individu yang relevan dengan tantangan sosial dan profesional.
Secara lebih luas, Diklat Outdoor ini menjadi representasi dari arah baru pengembangan mahasiswa yang menempatkan karakter, daya juang, dan integritas sebagai fondasi utama. Hal ini sejalan dengan mandat tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pendidikan dan pengabdian, di mana mahasiswa didorong untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata di masyarakat.
Ke depan, pola kegiatan serupa berpotensi menjadi model pembinaan yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang adaptif dan berbasis pengalaman, organisasi mahasiswa memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak di tengah dinamika zaman.





