شؤون الطلاب بالجامعة — UKM Jhepret Club Fotografi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Diklat Lanjut XXVII pada 13–14 Juni 2026 di Ruang Sidang dan Ruang B118. Program kaderisasi ini menjadi ruang penguatan kompetensi bagi anggota. Tidak hanya di bidang fotografi dan videografi. Tetapi juga dalam aspek kepemimpinan, kreativitas, dan profesionalisme berkarya.
Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin dinamis, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup. Seorang kreator visual dituntut memiliki kepekaan, cara berpikir yang matang, serta kemampuan bekerja dalam tim. Karena itu, Diklat Lanjut XXVII dirancang sebagai proses pembelajaran berjenjang yang menyiapkan anggota menghadapi tantangan dunia kreatif yang terus berkembang.
Peserta memperoleh materi Belajar Ngonsep yang disampaikan oleh M. Luqman Hanif dan Roiyyan Mohammad Moi. Sesi ini mengajak peserta memahami pentingnya gagasan dalam membangun karya visual. Pembelajaran dilanjutkan dengan praktik pembuatan maket pameran fotografi secara berkelompok. Peserta menyusun konsep ruang, menentukan tata letak karya, dan mempresentasikan hasil rancangan mereka.

Pada sesi berikutnya, peserta dibagi berdasarkan bidang minat. Bidang fotografi mendapatkan materi jurnalistik dari Roiyyan Mohammad Moi. Sementara bidang videografi mempelajari sound effect dan editing bersama Kine Club UMM. Pembagian tersebut memberi ruang bagi peserta untuk mendalami kompetensi sesuai bidang yang ditekuni.
Hari kedua diisi dengan materi profesionalisme dan kepemimpinan yang dibawakan M. Luqman Hanif. Peserta diajak memahami pentingnya tanggung jawab dan etika dalam berorganisasi maupun saat berkarya di lapangan. Setelah itu, Rofiq Rusdi bersama M. Luqman Hanif membahas visual awareness. Materi tersebut menekankan pentingnya kepekaan dalam menangkap pesan dan realitas melalui medium visual.
M. Luqman Hanif menegaskan bahwa kualitas karya tidak hanya ditentukan oleh penguasaan alat.
“Fotografi dan videografi bukan hanya soal menguasai kamera, tetapi juga bagaimana membangun cara berpikir yang kreatif, profesional, dan mampu bekerja sama dalam sebuah tim. Karya yang baik lahir dari proses belajar yang konsisten dan kesadaran untuk terus berkembang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Roiyyan Mohammad Moi. Menurutnya, seorang jurnalis visual harus mampu menghadirkan cerita melalui gambar. Pemahaman terhadap konsep dan etika jurnalistik menjadi bagian penting agar karya yang dihasilkan memiliki makna dan nilai informasi.
Sementara itu, Rofiq Rusdi menilai kepekaan visual merupakan kemampuan yang harus terus dilatih. Sebab, tidak semua pesan dapat ditangkap oleh mata yang terbiasa melihat sesuatu secara biasa.
Selama dua hari pelaksanaan, suasana pembelajaran berlangsung aktif dan interaktif. Peserta terlibat dalam diskusi dan bertukar pengalaman. Proses tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kreatif tidak hanya berlangsung di balik kamera. Ia tumbuh dari kebiasaan membaca realitas, mengolah gagasan, dan membangun kolaborasi.
Bagi Jhepret Club Fotografi, kaderisasi bukan sekadar rutinitas tahunan. Proses tersebut menjadi cara untuk menyiapkan generasi kreator visual yang mampu menghadirkan karya dengan nilai, pesan, dan tanggung jawab. Sebab pada akhirnya, kamera hanyalah alat. Cara pandang dan kepekaan manusialah yang membuat sebuah karya memiliki cerita.





