Kemahasiswaan Universitas – Di balik dinding kokoh Gedung Wakil Rakyat, yang sering kali dikesankan jauh dari rakyat, puluhan Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Malang datang bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk menilik langsung ‘dapur perundang-undangan’ negeri ini. Pada Rabu (22/10/2025), mereka menyerbu jantung legislatif, tidak hanya untuk memperdalam pemahaman tentang fungsi parlemen, tetapi juga berdialog mengenai isu-isu krusial yang berkembang di tanah air.
Kesan formal penerimaan di aula Humas DPR RI segera sirna saat forum diskusi dimulai. Dipandu Pranata Humas DPR, Agraha Dwita Sulistyajati, diskusi tak hanya membahas teori, tapi langsung menguliti isu-isu hangat. Para mahasiswa secara tajam menyoroti produk-produk legislasi yang menuai kontroversi dan berdampak langsung pada masyarakat. Ruangan yang awalnya sunyi, tiba-tiba riuh oleh pertanyaan-pertanyaan kritis ‘khas mahasiswa’ yang menanti jawaban pasti.
“Diskusi ini menampakkan gambaran nyata tentang kompleksitas dan dinamika yang ada dalam proses legislasi. Mahasiswa jadi bisa melihat langsung bagaimana sebuah produk hukum itu dirumuskan. Lebih dari itu, kami sebagai generasi muda, ingin memastikan DPR tidak hanya bekerja di balik pintu tertutup. Ada pertanggung jawaban atas setiap pasal yang dilahirkan,” tegas Fauzi, pimpinan rombongan SEMA, menyoroti pentingnya integritas DPR.
Setelah sesi diskusi yang hangat, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri Museum DPR. Di sini, narasi sejarah dibaca ulang. Bukan sekadar kagum, para mahasiswa justru membandingkan idealisme perjuangan para pendahulu dengan realitas politik saat ini. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan: apakah semangat reformasi masih menyala di tengah pusaran politik yang kian pragmatis?
Puncaknya, para mahasiswa UIN Malang berhadapan langsung dengan anggota Komisi III Fraksi PKB, Abdullah, atau Gus Abduh. Ruang diskusi Fraksi PKB menjadi arena ‘pertarungan’ gagasan. Tak ada basa-basi, isu-isu penegakan hukum, kasus-kasus korupsi yang tak kunjung tuntas, hingga jaminan HAM yang masih ngambang, dipertanyakan secara lugas. Gus Abduh dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tajam, yang menunjukkan bahwa mahasiswa tidak datang dengan tangan kosong, melainkan dengan bekal data dan analisis.
Kunjungan studi legislasi ini menegaskan posisi mahasiswa yang berperan ‘bukan sekedar penonton’, tetapi juga sebagai kekuatan pengontrol yang berani menagih janji-janji wakil rakyat.





