Kemahasiswaan Universitas – Menjelang senja di kawasan Merjosari, puluhan mahasiswa tampak berdiri di tepi jalan dengan senyum dan paket takjil di tangan. Suasana yang semula dipenuhi lalu-lalang kendaraan perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan singkat antara mahasiswa dan masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk kota, momen sederhana itu menghadirkan kehangatan: pengendara yang menerima takjil dengan ucapan terima kasih, mahasiswa yang saling menyemangati, dan senja Ramadhan yang menghadirkan nuansa kebersamaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Sebanyak 68 pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (HMPS MPI) berkumpul pada Minggu, 8 Maret 2026 untuk melaksanakan kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama di sekitar Angkringan Podjok, Jl. Mertojoyo, Kota Malang. Paket takjil dibagikan kepada masyarakat dan para pengguna jalan yang melintas menjelang waktu berbuka. Interaksi yang terjadi berlangsung singkat, namun meninggalkan kesan yang hangat—sebuah pengalaman yang membuat para mahasiswa merasakan langsung makna berbagi di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bagi banyak peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda organisasi. Momen berbagi takjil memberikan pengalaman personal tentang bagaimana kepedulian sosial dapat tumbuh melalui tindakan sederhana. Saat satu paket takjil berpindah tangan, yang tersisa bukan hanya rasa syukur dari penerima, tetapi juga kesadaran baru bagi para mahasiswa tentang arti kehadiran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan kemudian berlanjut ke suasana yang lebih hangat di meja-meja Angkringan Podjok. Para pengurus HMPS MPI duduk bersama untuk berbuka puasa, saling berbagi cerita, dan menikmati kebersamaan setelah seharian beraktivitas. Dalam suasana santai tersebut, jarak antaranggota organisasi terasa semakin dekat. Tawa ringan, percakapan sederhana, dan rasa syukur setelah berbuka menghadirkan nuansa kekeluargaan yang memperkuat ikatan antar pengurus.
Ketua HMPS MPI, Muhammad Fatwa Fadhila Faza, memandang momen ini sebagai ruang refleksi bagi seluruh pengurus. Baginya, kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan sederhana seperti ini menjadi fondasi penting bagi perjalanan organisasi ke depan. Dari pengalaman berbagi di jalanan hingga kebersamaan saat berbuka puasa, para pengurus belajar bahwa solidaritas organisasi tidak hanya dibangun melalui rapat dan program kerja, tetapi juga melalui pengalaman bersama yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap satu sama lain.





