Kemahasiswaan Universitas – Di tengah dinamika organisasi mahasiswa yang kerap terjebak pada rutinitas program, hubungan lintas generasi sering kali terabaikan. Padahal, kesinambungan nilai dan arah gerak organisasi tidak hanya ditentukan oleh kepengurusan aktif, tetapi juga oleh memori kolektif dan jejaring alumni yang terjaga. Dalam konteks itulah SALAM—Silaturahmi Alumni LKP2M—menjadi lebih dari sekadar kunjungan Ramadan; ia merupakan upaya sadar untuk menata ulang relasi, menyambung estafet kepemimpinan, dan memperkuat fondasi organisasi secara berkelanjutan.
Digelar pada Sabtu dan Minggu, 28 Februari–1 Maret 2026, pukul 15.00–19.30 WIB, SALAM menjadi bagian dari rangkaian Marhaban Ya Ramadhan (MYR) yang diinisiasi UKM LKP2M. Sebanyak 25 peserta hadir dalam kunjungan ke kediaman Ning Fuji dan Gus Angga, dua alumni yang kini berkiprah di ranah profesional sebagai Fuji Astutik, M.Psi., Psikolog, dan Agung Prasetyo, M.Pd. Forum berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis, di mana anggota dan pengurus tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga berdiskusi tentang arah organisasi, tantangan kaderisasi, serta pentingnya kesadaran kolektif dalam memikul amanah.
Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin menekankan penguatan karakter, kepemimpinan, dan jejaring profesional, model interaksi lintas generasi seperti ini memiliki relevansi strategis. Alumni bukan sekadar simbol keberhasilan masa lalu, melainkan sumber refleksi dan koreksi bagi generasi aktif. Melalui SALAM, LKP2M menunjukkan bahwa pembinaan organisasi tidak berhenti pada pelatihan internal, tetapi diperluas pada dialog pengalaman dan nilai. Pendekatan ini sejalan dengan arah pengembangan universitas yang mendorong kolaborasi, keberlanjutan, dan integrasi antara pengalaman akademik dan pembelajaran sosial.
Salah satu peserta mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Saya merasa diingatkan kembali bahwa organisasi bukan tentang siapa yang paling terlihat bekerja, tetapi tentang bagaimana kita menjaga kebersamaan dan tanggung jawab bersama,” ujarnya. Sementara itu, Ketua UKM LKP2M, Angga Stiya Darma Roihan, menegaskan bahwa silaturahmi ini bukan agenda simbolik. Ia mengutip pesan dari para alumni, “Di momen sowan dan Ramadan ini, semoga kita tidak hanya saling meminta maaf secara lisan, tapi juga memperbaiki cara kita berjalan bersama di organisasi. Pengurus dan anggota harus saling mengayomi dan saling menguatkan. Amanah organisasi dipikul dengan ikhlas, bukan dengan ego. Tidak perlu program kerja yang muluk-muluk, yang penting realistis, bisa dijalankan dengan baik, dan benar-benar bermanfaat.”
SALAM pada akhirnya memperlihatkan bahwa penguatan organisasi tidak selalu lahir dari forum formal, melainkan dari kesediaan untuk mendengar, merefleksikan, dan memperbaiki diri bersama. Di bulan Ramadhan yang sarat makna pembaruan, LKP2M menegaskan komitmennya untuk membangun kultur organisasi yang inklusif dan berorientasi manfaat. Jika silaturahmi ini terus dirawat sebagai tradisi intelektual dan emosional, maka transformasi organisasi akan tumbuh secara alami—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu visi kolektif yang berkelanjutan.





