MIU Login

Pesantren di Indonesia dan Benteng Moral Bangsa

Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan) – Di tengah arus globalisasi yang kian deras, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga moralitas dan karakter bangsanya. Fenomena degradasi moral, seperti korupsi, intoleransi, kekerasan, dan penyalahgunaan teknologi digital, menjadi cermin bahwa pendidikan formal semata tidak cukup membentengi generasi muda dari krisis nilai. Di sinilah pesantren hadir sebagai benteng moral bangsa—sebuah institusi pendidikan Islam yang bukan hanya menanamkan ilmu pengetahuan agama, tetapi juga menumbuhkan karakter luhur, akhlak karimah, dan kesadaran spiritual yang mendalam.

Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Tertua dan Asli Indonesia

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara yang telah ada jauh sebelum lahirnya sistem pendidikan modern. Jejaknya dapat ditelusuri sejak abad ke-16, seiring dengan penyebaran Islam oleh para wali dan ulama. Sistem pesantren tumbuh dari budaya lokal dan kearifan masyarakat Nusantara, menjadikannya model pendidikan yang khas dan adaptif.

Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menyebut pesantren sebagai “tempat pembinaan jiwa, ilmu, dan amal.” Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab kuning, tetapi juga wadah pembentukan insan kamil—manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Dalam tradisi pesantren, ilmu dan moral adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Santri tidak hanya dituntut pandai membaca kitab, tetapi juga harus berperilaku sopan, disiplin, dan bertanggung jawab.

Dengan sistem asrama (boarding school) yang melekat, pesantren membentuk ekosistem pendidikan yang menyeluruh: 24 jam pembelajaran karakter, keteladanan, dan pengendalian diri. Hubungan kiai dan santri bukan sekadar guru dan murid, melainkan hubungan spiritual yang membentuk keikhlasan, ketawadhuan, dan keberkahan ilmu.

Benteng Moral di Tengah Krisis Nilai

Dalam konteks modern, pesantren memainkan peran vital sebagai penjaga nilai moral bangsa. Di tengah krisis etika publik, pesantren tampil sebagai “penjaga api moralitas” yang terus menyala. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, dan tanggung jawab sosial diajarkan tidak hanya lewat teori, tetapi melalui praktik keseharian.

Tradisi ngaji dan riyadhoh (latihan spiritual) di pesantren mendidik santri untuk menundukkan hawa nafsu, melatih kesabaran, dan mengasah kepekaan sosial. Prinsip al-adabu fauqal ‘ilmi—adab lebih tinggi daripada ilmu—menjadi pedoman utama. Artinya, pengetahuan tanpa moral akan kehilangan makna. Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan bangsa yang sering kali kehilangan arah moral di tengah kemajuan teknologi dan ekonomi.

Pesantren juga menjadi pusat perlawanan terhadap materialisme dan individualisme yang menggerus solidaritas sosial. Dalam kehidupan pesantren, kebersamaan, gotong royong, dan keikhlasan menjadi budaya yang melekat. Santri belajar hidup sederhana, makan bersama, bekerja bersama, dan saling membantu. Nilai-nilai inilah yang membentuk kepribadian santri yang rendah hati, tahan banting, dan siap mengabdi pada masyarakat.

Pesantren dan Pembangunan Karakter Bangsa

Pemerintah telah lama mengakui peran pesantren sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menegaskan fungsi pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks pembangunan karakter bangsa, pesantren menjadi mitra strategis negara dalam mencetak sumber daya manusia yang berilmu sekaligus bermoral.

Sebagai contoh, banyak alumni pesantren yang kini berperan penting di berbagai sektor: pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hingga budaya. Mereka membawa nilai-nilai pesantren—jujur, adil, dan amanah—ke ruang publik. Pesantren membuktikan diri bukan hanya mencetak ulama, tetapi juga pemimpin bangsa yang berintegritas.

Selain itu, pesantren kini terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisinya. Banyak pesantren modern yang menggabungkan kurikulum keagamaan dengan sains, teknologi, dan kewirausahaan. Ini menunjukkan bahwa pesantren tidak anti kemajuan, melainkan menempatkan kemajuan dalam bingkai moralitas dan spiritualitas. Dengan prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (melestarikan nilai lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik), pesantren mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Pesantren di Era Digital dan Tantangan Global

Era digital membawa peluang sekaligus ancaman bagi kehidupan moral bangsa. Akses informasi yang tak terbatas dapat memperluas wawasan, namun juga membuka ruang bagi disinformasi, radikalisme, dan dekadensi moral. Dalam situasi ini, pesantren perlu memperkuat perannya sebagai digital moral guardian.

Pesantren dapat mengembangkan literasi digital berbasis etika Islam, mengajarkan santri bijak menggunakan teknologi, serta memanfaatkan media sosial untuk dakwah dan pendidikan moral. Beberapa pesantren telah melangkah maju dengan membuat konten edukatif di platform digital, membangun kanal dakwah kreatif, bahkan melahirkan santripreneur yang memanfaatkan teknologi untuk ekonomi umat.

Namun, tugas utama pesantren tetaplah menjaga “ruh” spiritual bangsa—menanamkan nilai-nilai tauhid, adab, dan tanggung jawab sosial di tengah arus modernisasi yang cenderung sekuler dan pragmatis.

Pesantren dan Benteng Moral Bangsa

Pesantren adalah benteng moral bangsa, tempat di mana nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan berkelindan menjadi kekuatan spiritual dan kultural. Dalam sejarahnya, pesantren tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga melahirkan pejuang kemerdekaan, pemimpin rakyat, dan pembaharu sosial.

Ketika dunia modern kehilangan arah moral, pesantren menawarkan alternatif peradaban: peradaban yang berakar pada iman, bernafas dalam adab, dan tumbuh dalam ilmu. Maka menjaga, memperkuat, dan memodernisasi pesantren bukan sekadar urusan keagamaan, tetapi juga strategi kebangsaan—demi memastikan Indonesia tetap tegak sebagai bangsa yang bermartabat dan berakhlak mulia.

Berita Terkait