MIU Login

Pembentukan Emergency Response Team Menjadi Langkah Konsolidasi Solidaritas Kemanusiaan dan Mitigasi Bencana di UIN Malang

Kemahasiswaan UniversitasPerguruan tinggi hari ini tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan sosial dalam menghadapi krisis kemanusiaan. Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah rawan bencana menjadikan mitigasi dan respons darurat sebagai kompetensi penting, termasuk di lingkungan kampus. Tanpa sistem koordinasi yang jelas, potensi sumber daya mahasiswa—khususnya yang memiliki keterampilan kebencanaan—sering kali terfragmentasi dan tidak termanfaatkan secara optimal ketika situasi darurat terjadi.

Kesadaran tersebut melatarbelakangi koordinasi pembentukan Emergency Response Team (ERT) yang dilaksanakan pada Rabu, 4 Maret 2026 di Kantor Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Forum ini mempertemukan delapan unsur strategis yang terdiri dari Kepala Pusat Kemahasiswaan, staf kemahasiswaan, Koordinator ERT, serta pimpinan organisasi mahasiswa yang memiliki kompetensi kebencanaan seperti Mapala, Pramuka, Menwa, KSR, dan LSO RMT FKIK. Pertemuan ini merumuskan struktur organisasi, pembagian peran, serta desain kerja lintas unit yang mengintegrasikan kemampuan medis, pencarian dan penyelamatan, pengamanan, serta komunikasi darurat dalam satu sistem respons terpadu.

Langkah ini menunjukkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan potensi mahasiswa dari yang sebelumnya bersifat sektoral menuju model kolaboratif berbasis kompetensi. Dengan mengintegrasikan berbagai organisasi mahasiswa yang memiliki keahlian berbeda, universitas tidak hanya memperkuat kesiapsiagaan internal, tetapi juga membangun model solidaritas kemanusiaan yang terstruktur. Dalam konteks pendidikan tinggi nasional yang semakin menekankan penguatan soft skills, kepemimpinan sosial, serta kesiapsiagaan bencana, pembentukan ERT menjadi bagian dari strategi membangun kampus yang adaptif dan responsif terhadap situasi darurat.

Kepala Pusat Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Romi Faslah, menegaskan bahwa pembentukan tim ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan mitigasi bencana yang sebelumnya telah dilaksanakan. Ia menyampaikan, “Untuk menindaklanjuti pelatihan mitigasi bencana tahun 2025 maka penting dibentuk organisasi yang menangani solidaritas kemanusiaan khususnya kalau ada bencana sehingga perlu dibentuk organisasinya, strukturnya dan job description-nya. Organisasi ini berupa team yang terdiri dari UKM Pramuka, Mapala, KSR, Menwa dan LSO RMT FKIK yang secara skill sudah mempunyai ilmu dalam hal penanganan bencana.” Sementara itu, Koordinator Emergency Response Team, Mohamad Azmi Mubarok, menegaskan komitmennya dalam mengembangkan sistem kerja tim tersebut. Ia menyampaikan, “Harapannya kami dapat melaksanakan tugas sebagai koordinator dengan membentuk struktur organisasi yang jelas, menyiapkan job description tiap divisi, serta merancang program satu tahun ke depan agar tim ini benar-benar siap membantu solidaritas kemanusiaan ketika terjadi bencana.”

Pembentukan ERT pada akhirnya tidak dapat dipandang sebagai kegiatan koordinasi biasa, melainkan sebagai langkah awal konsolidasi kapasitas kemanusiaan mahasiswa dalam kerangka yang lebih sistematis. Dengan struktur organisasi yang jelas dan pembagian peran berbasis kompetensi, universitas mulai menata fondasi kesiapsiagaan bencana yang terintegrasi. Jika proses ini dikembangkan secara berkelanjutan melalui pelatihan, simulasi, dan kolaborasi lintas organisasi, maka UIN Malang tidak hanya membangun kampus yang tangguh terhadap risiko, tetapi juga melahirkan generasi mahasiswa yang siap hadir sebagai bagian dari solusi kemanusiaan di tengah berbagai situasi krisis.

Berita Terkait