Kemahasiswaan Universitas – Di tengah arus kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan serba cepat, ruang-ruang pembinaan karakter justru menjadi kebutuhan yang tak tergantikan. Semangat itulah yang terasa dalam Diklat ke-XXVII UKM Seni Religius yang digelar di Aula Gedung C UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Minggu (3/5). Selama satu hari penuh, sebanyak 47 peserta tidak hanya diperkenalkan pada dinamika organisasi, tetapi juga diajak membaca ulang dirinya sendiri sebagai individu yang akan tumbuh bersama nilai, kreativitas, dan tanggung jawab sosial melalui seni religius.
Kegiatan kaderisasi yang diinisiasi UKM Seni Religius tersebut menghadirkan pendekatan yang lebih reflektif dibanding pola pelatihan organisasi pada umumnya. Melalui materi “knowing yourself, growing yourself” yang disampaikan Hilda Halida, M.Psi., Psikolog, peserta diarahkan untuk memahami bahwa proses berkesenian bukan sekadar kemampuan tampil atau mencipta, melainkan kemampuan mengelola emosi, membangun kesadaran diri, serta mengenali potensi personal sebagai fondasi bertumbuh di lingkungan kolektif. Kesadaran itu dinilai penting agar anggota baru mampu berproses secara sehat sekaligus profesional dalam menjalankan aktivitas organisasi.
Ketua UKM, M. Zaim Izzaty, memandang diklat tahunan ini sebagai titik awal regenerasi yang menentukan arah keberlanjutan organisasi. Di tengah perubahan budaya digital yang memengaruhi cara generasi muda mengekspresikan diri, UKM Seni Religius berupaya menjaga seni tetap memiliki dimensi etik dan spiritual. Karena itu, kaderisasi tidak hanya diarahkan pada peningkatan keterampilan artistik, tetapi juga pada pembentukan karakter kolaboratif, integritas personal, dan kepekaan sosial yang relevan dengan kehidupan akademik maupun masyarakat luas.
Kepala Pusat Kemahasiswaan Universitas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa ruang-ruang pengembangan seperti ini memiliki posisi strategis dalam membentuk atmosfer kampus yang humanis dan berdaya saing. “Kampus tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki sensitivitas budaya, kemampuan bekerja sama, dan kedewasaan dalam memaknai proses. Seni religius menjadi medium penting untuk merawat nilai-nilai itu di tengah kehidupan perguruan tinggi yang terus berubah,” ujarnya. Pandangan tersebut sejalan dengan kecenderungan pendidikan tinggi saat ini yang semakin menempatkan penguatan soft skills dan kesehatan psikologis mahasiswa sebagai bagian integral dari pembangunan sumber daya manusia.
Lebih dari sekadar agenda rutin organisasi, Diklat ke-XXVII menghadirkan pesan bahwa regenerasi sejatinya adalah proses menyiapkan masa depan. Dari ruang aula sederhana di lingkungan kampus, lahir harapan agar seni tidak berhenti sebagai ekspresi estetika, melainkan berkembang menjadi cara berpikir, cara merawat empati, dan cara menjaga nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman. Di titik itulah, kaderisasi menemukan maknanya yang paling mendalam: membentuk generasi yang tidak hanya mampu tampil, tetapi juga mampu bertumbuh dan memberi arti.





