Oleh. Prof Triyo Supriyatno
Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Dalam kehidupan manusia, ibu bukan sekadar peran biologis, melainkan sebuah filsafat hidup. Ia adalah sumber pertama pengetahuan, sekolah awal nilai, dan ruang aman bagi pertumbuhan akal sekaligus nurani. Filsafat ibu tidak selalu lahir dari buku tebal atau ruang akademik, tetapi dari kesabaran, pengorbanan, dan keberanian menjaga kehidupan agar tetap manusiawi.
Ketika kita membaca kisah Hypatia dari Alexandria, kita tidak hanya sedang membaca sejarah seorang perempuan jenius, melainkan juga menyaksikan kegagalan peradaban yang kehilangan jiwa keibuannya. Hypatia adalah simbol nalar, cahaya, dan pengasuhan intelektual—ia mengajar, membimbing, dan melahirkan pemikiran. Dalam makna filosofis terdalam, ia menjalankan peran ibu peradaban, meski rahimnya bukan rahim biologis, melainkan rahim pengetahuan.
Filsafat ibu bertumpu pada prinsip merawat kehidupan, bukan memusnahkannya. Ibu tidak takut pada pertanyaan, karena dari pertanyaanlah anak belajar berjalan, berbicara, dan berpikir. Ibu tidak menganggap perbedaan sebagai ancaman, tetapi sebagai proses tumbuh. Maka ketika Hypatia dibunuh karena kecerdasannya, sesungguhnya yang mati bukan hanya seorang filsuf, melainkan nilai keibuan dalam peradaban—nilai yang melindungi akal, bukan menghancurkannya.
Dalam filsafat ibu, pengetahuan bukan alat dominasi, tetapi alat pembebasan. Ibu mengajarkan dengan bahasa kasih, bukan kekerasan. Ia membentuk manusia yang berani berpikir sekaligus berempati. Hypatia melakukan itu: mengajar logika di tengah takhayul, rasionalitas di tengah fanatisme, dan dialog di tengah kebisingan konflik. Ia berdiri seperti seorang ibu yang menyalakan lampu di malam gelap agar anak-anaknya tidak tersesat.
Kematian Hypatia menunjukkan apa yang terjadi ketika dunia dikuasai oleh mentalitas anti-ibu: mentalitas yang takut pada pertumbuhan, alergi terhadap pertanyaan, dan gemar memaksakan kebenaran tunggal. Kekerasan terhadap Hypatia adalah bentuk ekstrem dari ketakutan pada rahim pemikiran—ketakutan bahwa manusia akan menjadi dewasa, kritis, dan merdeka.
Filsafat ibu justru mengajarkan bahwa kedewasaan lahir dari keberanian berpikir dan kelembutan hati. Ibu tidak membunuh anaknya karena ia bertanya terlalu banyak. Ibu tidak menghukum karena anaknya lebih tahu. Ibu membimbing, bukan membungkam. Inilah sebabnya mengapa dalam banyak tradisi besar dunia, peradaban yang maju selalu menghormati perempuan dan ilmu pengetahuan secara bersamaan.
Dalam konteks kehidupan hari ini, filsafat ibu menuntut kita untuk menghadirkan kembali nilai-nilai pengasuhan dalam ruang sosial, pendidikan, dan bahkan politik. Pendidikan yang berjiwa ibu tidak mematikan kreativitas dengan ketakutan. Agama yang berjiwa ibu tidak memusuhi akal, tetapi menuntunnya. Negara yang berjiwa ibu melindungi warganya untuk berpikir, berbicara, dan berkembang.
Hypatia mungkin tidak pernah melahirkan anak, tetapi ia melahirkan keberanian berpikir. Ia adalah ibu bagi murid-muridnya, ibu bagi ilmu, dan ibu bagi masa depan yang sayangnya tidak siap menerimanya. Ketika ia dibunuh, dunia kehilangan seorang pengasuh akal budi.
Namun filsafat ibu mengajarkan satu hal penting: kehidupan tidak pernah berhenti pada kematian. Nilai-nilai keibuan selalu menemukan jalan untuk hidup kembali—dalam guru yang jujur, dalam ibu yang mendidik dengan cinta, dalam masyarakat yang berani melindungi akal dari kebencian.
Maka, mengenang Hypatia bukan sekadar mengenang tragedi, melainkan sebuah panggilan: apakah kita ingin hidup dalam peradaban yang berjiwa ibu—yang merawat pengetahuan dan kemanusiaan—atau dalam dunia yang takut pada kecerdasan dan memilih kekerasan?
Karena sejatinya, ibu adalah filsuf pertama dalam hidup manusia. Dari tangannyalah kita belajar mencintai kebenaran tanpa membenci sesama. Dan selama filsafat ibu masih hidup, cahaya akal budi tidak akan pernah benar-benar padam.