MIU Login

“Cilongbao” UIN Malang Sabet Juara Nasional: Sulap Cilok Jadi Camilan Sehat Kekinian Berprotein Tinggi!

Kemahasiswaan Universitas - Siapa bilang jajanan tradisional hanya bisa jadi camilan biasa? Tim Farmasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membuktikan sebaliknya. Dengan inovasi jenius, mereka berhasil mereformulasi cilok (aci dicolok), jajanan kaki lima favorit, menjadi camilan sehat berkelas nasional bernama "Cilongbao".
Karya unik ini mengantarkan UIN Malang meraih Juara 2 dalam ajang bergengsi Perlombaan Gelar Teknologi Pangan (GTP) 2025 yang diselenggarakan oleh UPN Veteran Jawa Timur (18/10/2025). Prestasi ini semakin manis karena UIN Malang berhasil mengungguli kampus teknologi ternama, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang menempati posisi ketiga, meskipun harus mengakui keunggulan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang di posisi puncak.
Tim kebanggaan UIN Malang ini terdiri dari Lufita Diani Larasati (Angkatan 2023), M. Thoriq Farhan Al Haqqi (Angkatan 2023), dan Reza Ahmad Al Hajj (Angkatan 2024) dari Program Studi Farmasi. Mereka berlaga di bidang Poster Inovasi Pangan dengan mengusung subtema "Reformulasi Produk Tradisional Sebagai Tren Camilan Bergizi".

Dari Cilok Biasa Menuju “Cilongbao” yang Menggugah Selera

Inovasi mereka berawal dari keprihatinan terhadap tren camilan instan atau kemasan yang menjamur di pasaran namun minim nilai gizi, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak. Tim ini kemudian terinspirasi untuk mengangkat derajat cilok, jajanan tradisional Indonesia, menjadi produk pangan unggul yang lebih sehat dan bergizi lengkap.
Lahirlah “Cilongbao”, sebuah akronim cerdas dari Cilok dan Xiaolongbao—makanan asal China yang sempat viral. Nama ini dipilih untuk memberikan kesan modern dan kekinian pada jajanan tradisional tersebut.
Yang membuat “Cilongbao” istimewa adalah formulasi bahan dasarnya. Tim ini tidak hanya menggunakan tepung tapioka biasa, melainkan mengombinasikannya dengan tepung kedelai dan tulang ayam. Hasilnya? Sebuah camilan cilok tinggi protein yang tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga kaya manfaat gizi.

Keunggulan Konsep dan Selisih Poin Tipis

Prestasi ini mendapat “jempol” dari dosen pembimbing, Dewi Sinta Megawati. Ia mengungkapkan rasa bangganya melihat perjuangan tim yang mampu bersaing ketat dengan peserta dari jurusan yang lebih linear, yaitu teknologi pangan.
“Saya sangat bangga karena meskipun kemarin saingannya itu dari jurusan yang linear, yaitu teknologi pangan, tim ini bisa tetap memberikan perlawanan yang sangat baik,” ujar Dewi.
Ia juga menambahkan bahwa konsep yang dibawa tim UIN Malang mendapat nilai tinggi dari juri. “Kemarin komentar dari juri hanya terkait uji nilai gizinya saja yang kurang lengkap karena memang instrumen di prodi kami tidak memadai untuk uji makanan, tetapi selisih poinnya dengan juara pertama hanya 0,3. Ini menandakan konsep yang mereka susun sudah sangat baik dan mereka mampu mempresentasikan karyanya dengan baik pula.”

Berita Terkait