{"id":25863,"date":"2026-08-11T00:33:54","date_gmt":"2026-08-11T00:33:54","guid":{"rendered":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/?p=25863"},"modified":"2026-08-11T00:39:43","modified_gmt":"2026-08-11T00:39:43","slug":"mengapa-maba-uin-maulana-malik-ibrahim-malang-perlu-tinggal-di-mahad-selama-1-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/mengapa-maba-uin-maulana-malik-ibrahim-malang-perlu-tinggal-di-mahad-selama-1-tahun\/","title":{"rendered":"Mengapa Maba UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Perlu Tinggal di Ma\u2019had selama 1 Tahun?"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"25863\" class=\"elementor elementor-25863\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5ebac6ab e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"5ebac6ab\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-1e8ee464 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"1e8ee464\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Oleh. <strong>Prof. Triyo Supriyatno<\/strong><br \/><\/span><span style=\"color: #000000;\">Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ada pertanyaan sederhana yang sering luput dalam pembicaraan tentang pendidikan tinggi: <strong>untuk apa sebenarnya universitas mendidik manusia?<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah hanya agar mahasiswa mendapatkan nilai tinggi, lulus tepat waktu, memperoleh ijazah, kemudian mendapatkan pekerjaan?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tentu tidak.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Universitas seharusnya menyiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan. Sebab setelah wisuda, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan dunia kerja. Mereka akan berhadapan dengan kegagalan, persaingan, konflik, perubahan, kehilangan, tekanan sosial, godaan materialisme, krisis makna, dan berbagai persoalan kehidupan yang tidak pernah tercantum dalam lembar ujian.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Di sinilah keberadaan Ma\u2019had di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menemukan relevansinya.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ma\u2019had bukan sekadar asrama tempat mahasiswa tinggal. Ia dapat dipandang sebagai <strong>laboratorium kehidupan<\/strong>, tempat mahasiswa belajar menjadi manusia: mengenal Tuhan, mengenal dirinya, belajar hidup bersama orang lain, sekaligus belajar menghadapi kesulitan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dalam konteks pendidikan UIN Malang yang mengembangkan paradigma <strong>Ulul Albab<\/strong>, pendidikan ideal tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual. Ia harus melahirkan manusia yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan ilmu, kematangan profesional, keagungan akhlak, dan kesiapan menghadapi kehidupan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Karena itu, Ma\u2019had memiliki peran strategis dalam mengasah dua kecerdasan yang semakin penting bagi generasi muda Gen Z: <strong>Spiritual Quotient (SQ)<\/strong> dan <strong>Adversity Quotient (AQ)<\/strong>.<\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ: Mengajarkan Mahasiswa Memiliki Arah<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kecerdasan spiritual sering disalahpahami sebagai sekadar kemampuan menjalankan ritual keagamaan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Padahal, SQ jauh lebih dalam.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kecerdasan spiritual menyangkut kemampuan manusia menemukan makna, nilai, tujuan, dan orientasi dalam kehidupannya. Seseorang dengan kecerdasan spiritual yang baik tidak hanya bertanya, \u201cApa yang harus saya lakukan?\u201d, tetapi juga bertanya, <strong>\u201cUntuk apa saya melakukan ini?\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pertanyaan tersebut sangat penting bagi mahasiswa.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sebab ilmu tanpa orientasi moral dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa nilai dapat berubah menjadi alat untuk mengejar kepentingan diri sendiri. Teknologi tanpa spiritualitas dapat melahirkan manusia yang semakin kuat secara kemampuan, tetapi semakin lemah dalam kebijaksanaan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ma\u2019had mempunyai ruang yang sangat luas untuk membangun kesadaran tersebut.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Bangun sebelum subuh, shalat berjamaah, membaca Al-Qur\u2019an, mengikuti ta\u2019lim, belajar bahasa Arab, berdiskusi, menghormati pembina, menjaga kebersihan, hidup bersama teman yang berbeda latar belakang, dan mengikuti kegiatan bersama bukan sekadar rutinitas.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Jika dikelola dengan pendekatan pendidikan yang tepat, semua itu merupakan <strong>latihan spiritual dan karakter<\/strong>.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mahasiswa belajar bahwa disiplin bukan hanya kewajiban administratif. Disiplin adalah bentuk tanggung jawab.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ia belajar bahwa ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ibadah adalah cara membangun hubungan dengan Allah sekaligus membentuk kepribadian.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ia belajar bahwa hidup bersama bukan hanya soal berbagi kamar. Hidup bersama adalah belajar menghormati manusia lain.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dengan demikian, spiritualitas tidak berhenti di masjid. Ia dibawa ke ruang kelas, organisasi mahasiswa, kehidupan sosial, dunia digital, bahkan kelak ke dunia profesi.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Inilah tantangan penting Ma\u2019had: <strong>mengubah agama dari sekadar pengetahuan menjadi kesadaran dan perilaku.<\/strong><\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">AQ: Belajar Tidak Menyerah<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Selain SQ, mahasiswa juga membutuhkan <strong>Adversity Quotient<\/strong>, yakni kemampuan menghadapi kesulitan, tekanan, kegagalan, dan berbagai tantangan kehidupan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita hidup di zaman yang menarik.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Generasi muda memiliki akses informasi yang luar biasa besar, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan psikologis dan sosial yang juga semakin kompleks. Media sosial membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Prestasi teman terlihat setiap hari. Kesuksesan orang lain hadir di layar telepon. Sementara kegagalan pribadi sering dirasakan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Akibatnya, sebagian anak muda tumbuh dengan keinginan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi tidak selalu siap menghadapi kegagalan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Padahal kehidupan tidak demikian.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tidak semua ujian menghasilkan nilai tinggi.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tidak semua usaha menghasilkan keberhasilan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tidak semua harapan menjadi kenyataan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dan tidak semua perjalanan berlangsung lurus.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Karena itu, mahasiswa harus belajar satu kemampuan yang sangat penting: <strong>bangkit kembali.<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Di sinilah kehidupan Ma\u2019had sebenarnya menjadi ruang pendidikan AQ yang sangat potensial.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mahasiswa yang sebelumnya tinggal nyaman bersama keluarga harus belajar mengatur dirinya sendiri. Mereka belajar bangun tepat waktu. Belajar membagi waktu. Belajar mengikuti aturan. Belajar menghadapi perbedaan karakter teman. Belajar menyelesaikan konflik. Belajar menerima kritik. Belajar menghadapi tugas akademik yang berat.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Bagi sebagian mahasiswa, semua itu mungkin terasa sederhana.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tetapi sesungguhnya, di sanalah karakter dibentuk.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketika seseorang gagal bangun pagi lalu berusaha memperbaikinya, ia sedang belajar disiplin.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketika seseorang gagal dalam ujian lalu belajar lebih keras, ia sedang membangun ketangguhan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketika seseorang berselisih dengan teman lalu belajar meminta maaf, ia sedang belajar kedewasaan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketika seseorang mengalami kegagalan tetapi memilih mencoba kembali, ia sedang membangun AQ.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dengan kata lain, <strong>kesulitan yang dikelola dengan baik dapat menjadi guru yang sangat berharga.<\/strong><\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Jangan Salah Memahami Ketangguhan<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Membangun AQ tidak berarti membuat mahasiswa terus-menerus berada dalam tekanan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketangguhan bukan berarti seseorang tidak boleh lelah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketangguhan bukan berarti tidak boleh menangis.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ketangguhan bukan berarti harus selalu kuat sendirian.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Justru manusia yang tangguh adalah manusia yang mampu mengenali kelemahannya, meminta bantuan ketika diperlukan, belajar dari kegagalan, kemudian kembali berdiri.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Karena itu, pembinaan Ma\u2019had harus menggabungkan <strong>tantangan dan pendampingan<\/strong>.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mahasantri perlu diberi disiplin, tetapi juga perlu dipahami.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Perlu diberi target, tetapi juga perlu diberi ruang refleksi.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Perlu belajar mandiri, tetapi juga harus merasa bahwa ada pembina yang siap mendampingi.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Di sinilah kualitas musyrif dan musyrifah menjadi sangat penting.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mereka bukan sekadar pengawas aturan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mereka adalah <strong>pendidik, pendamping, sekaligus teladan<\/strong>.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mahasiswa mungkin lupa apa yang disampaikan dalam sebuah ceramah. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana seorang pembina memperlakukan mereka ketika sedang menghadapi masalah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Keteladanan sering kali lebih kuat daripada nasihat.<\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ dan AQ: Dua Sayap Mahasantri<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ dan AQ sebaiknya tidak dipisahkan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ memberikan arah, AQ memberikan daya tahan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ membuat manusia bertanya, \u201cApa yang benar?\u201d<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">AQ membuatnya mampu tetap memperjuangkan kebenaran ketika jalan yang ditempuh tidak mudah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ membuat seseorang memiliki harapan kepada Allah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">AQ membuat seseorang tetap berusaha meskipun hasil belum terlihat.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">SQ membentuk manusia yang memiliki nilai.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">AQ membentuk manusia yang tidak mudah menyerah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Keduanya menjadi sangat penting bagi cita-cita pendidikan Ulul Albab.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Manusia Ulul Albab bukan manusia yang hanya pandai berbicara tentang agama. Ia juga bukan manusia yang hanya unggul secara akademik.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ia adalah manusia yang mampu mempertemukan <strong>pikiran, hati, dan tindakan<\/strong>.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ilmunya memberi cahaya.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Imannya memberi arah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Akhlaknya memberi keteladanan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dan ketangguhannya membuat ia mampu menghadapi zaman.<\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ma\u2019had Sebagai Laboratorium Kehidupan<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Karena itu, ke depan Ma\u2019had UIN Malang perlu terus bergerak dari paradigma <strong>\u201casrama pembinaan mahasiswa\u201d menuju \u201claboratorium pembentukan manusia.\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Perubahan paradigma ini penting.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Setiap aktivitas Ma\u2019had harus memiliki tujuan pendidikan yang jelas.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ro\u2019an, misalnya, tidak sekadar membersihkan lingkungan, tetapi membangun tanggung jawab dan kepedulian.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Halaqah tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi ruang refleksi dan dialog.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Shalat berjamaah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi latihan disiplin dan kebersamaan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kegiatan sosial bukan sekadar program, tetapi pendidikan empati.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Organisasi bukan sekadar tempat mendapatkan pengalaman, tetapi ruang belajar kepemimpinan dan penyelesaian konflik.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Bahkan persoalan dan pelanggaran mahasiswa dapat dijadikan <strong>bahan pendidikan<\/strong>, bukan semata-mata alasan untuk memberikan hukuman.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pendekatan seperti ini akan membuat Ma\u2019had lebih hidup.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mahasantri tidak hanya bertanya, \u201cApa aturan yang harus saya ikuti?\u201d<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Mereka mulai bertanya, <strong>\u201cNilai apa yang sedang saya pelajari?\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Itulah perbedaan antara pendidikan yang sekadar mengatur perilaku dengan pendidikan yang membentuk kesadaran.<\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ukuran Keberhasilan Ma\u2019had Bukan Hanya Saat Mahasantri Berada di Dalamnya<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ada ukuran keberhasilan Ma\u2019had yang lebih penting daripada sekadar tingkat kehadiran dalam kegiatan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ukuran itu adalah: <strong>apa yang terjadi setelah mahasiswa meninggalkan Ma\u2019had?<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah mereka tetap memiliki kebiasaan baik?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah mereka tetap dekat dengan Al-Qur\u2019an?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah mereka tetap mampu menjaga integritas ketika tidak diawasi?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah mereka mampu mengelola konflik?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah mereka tidak mudah menyerah ketika gagal?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Apakah mereka mampu menggunakan ilmu untuk memberi manfaat?<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Jika nilai-nilai itu tetap hidup setelah mereka meninggalkan Ma\u2019had, berarti pendidikan telah berhasil.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sebab pendidikan yang baik bukan pendidikan yang membuat mahasiswa bergantung selamanya kepada aturan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pendidikan yang baik justru membuat seseorang <strong>mampu mengatur dirinya sendiri ketika tidak ada lagi yang mengawasi.<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Inilah yang seharusnya menjadi orientasi pendidikan Ma\u2019had.<\/span><\/p><h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dari Ma\u2019had untuk Indonesia<\/span><\/h2><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pada akhirnya, Ma\u2019had UIN Malang memiliki tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar membentuk mahasiswa yang religius.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ia mempunyai peluang membentuk generasi yang <strong>religius sekaligus rasional, lembut sekaligus tangguh, kritis sekaligus santun, berilmu sekaligus berakhlak.<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Generasi seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita membutuhkan dokter yang bukan hanya ahli mengobati, tetapi memiliki empati.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita membutuhkan guru yang bukan hanya menguasai materi, tetapi mampu menjadi teladan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita membutuhkan birokrat yang bukan hanya memahami administrasi, tetapi memiliki integritas.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita membutuhkan pengusaha yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi memiliki tanggung jawab sosial.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu memenangkan kompetisi, tetapi mampu menjaga martabat manusia.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Semua itu tidak cukup dibentuk oleh ruang kuliah.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ia membutuhkan ekosistem pendidikan yang menyentuh kepala sekaligus hati.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dan Ma\u2019had dapat menjadi salah satu ruang penting untuk itu.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak boleh hanya bertanya:<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>\u201cSeberapa pintar mahasiswa kita?\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kita juga harus bertanya:<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>\u201cSeberapa dalam jiwanya?\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>\u201cSeberapa kuat ia menghadapi kesulitan?\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>\u201cSeberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada orang lain?\u201d<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sebab dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dunia membutuhkan manusia yang <strong>bermakna<\/strong>.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ma\u2019had UIN Malang mempunyai kesempatan besar untuk melahirkan manusia seperti itu: manusia yang memiliki akar spiritual yang kuat, pikiran yang terbuka, hati yang teduh, dan keberanian untuk menghadapi badai kehidupan.<\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>SQ membuat mahasantri tahu ke mana harus melangkah. AQ membuat mereka tidak berhenti ketika jalan terasa berat. Dan pendidikan Ulul Albab menyatukan keduanya menjadi manusia yang berilmu, beriman, tangguh, dan bermanfaat.<\/strong><\/span><\/p><p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Barangkali, inilah makna terdalam Ma\u2019had: <strong>bukan sekadar tempat tinggal sebelum menjadi sarjana, tetapi tempat menempa manusia sebelum terjun menghadapi kehidupan.<\/strong><\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh. Prof. Triyo SupriyatnoWakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Ada pertanyaan sederhana yang sering luput dalam pembicaraan tentang pendidikan tinggi: untuk apa sebenarnya universitas mendidik manusia? Apakah hanya agar mahasiswa mendapatkan nilai tinggi, lulus tepat waktu, memperoleh ijazah, kemudian mendapatkan pekerjaan? Tentu tidak. Universitas seharusnya menyiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan. Sebab setelah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25865,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-25863","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-warek3"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25863"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25863\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25869,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25863\/revisions\/25869"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25865"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kemahasiswaan.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}