Oleh: Triyo Supriyatno, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang – Gagasan bahwa perguruan tinggi harus berorientasi global bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Di tengah arus mobilitas tenaga kerja internasional yang semakin terbuka, kampus tidak cukup hanya mencetak lulusan yang unggul di tingkat lokal. Mereka harus siap bersaing di panggung global. Dalam konteks ini, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) memiliki peluang besar untuk melangkah lebih jauh sebagai pusat pengembangan talenta global berbasis nilai-nilai Islam.
Selama ini, lulusan perguruan tinggi di Indonesia, termasuk PTKI, masih didominasi oleh orientasi domestik. Padahal, data menunjukkan bahwa peluang kerja di luar negeri terus meningkat, terutama bagi tenaga kerja terampil di berbagai sektor strategis. Sayangnya, keterlibatan lulusan perguruan tinggi dalam pasar kerja global masih relatif kecil. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi akademik dengan kesiapan global.
UIN Maliki Malang, sebagai salah satu PTKI unggulan, sesungguhnya memiliki modal kuat untuk menjawab tantangan ini. Integrasi antara ilmu keislaman dan sains modern yang menjadi ciri khasnya dapat menjadi daya tarik tersendiri di tingkat internasional. Namun, keunggulan tersebut perlu diperkuat dengan strategi yang lebih terarah dan sistemik menuju orientasi global.
Pertama, penguatan kompetensi bahasa asing menjadi keniscayaan. Bahasa Inggris, Arab, dan bahkan bahasa lain seperti Mandarin harus menjadi bagian integral dari ekosistem akademik. Tanpa kemampuan komunikasi global, lulusan akan kesulitan menembus pasar internasional, seberapa pun tinggi kompetensi akademiknya.
Kedua, penguatan career development center (CDC) di lingkungan kampus perlu menjadi prioritas. CDC tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi kerja, tetapi harus bertransformasi menjadi jembatan antara kampus dengan industri global. Kemitraan dengan perusahaan multinasional, lembaga internasional, serta jaringan diaspora Indonesia harus dibangun secara aktif.
Ketiga, kurikulum harus didesain lebih adaptif terhadap kebutuhan global. Ini berarti memasukkan perspektif internasional dalam pembelajaran, memperkuat literasi digital, serta mengembangkan soft skills seperti critical thinking, kepemimpinan, dan kolaborasi lintas budaya. Dunia kerja global tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga individu yang adaptif dan komunikatif.
Keempat, UIN Maliki Malang perlu mendorong mobilitas internasional mahasiswa. Program pertukaran pelajar, magang luar negeri, hingga kolaborasi riset internasional harus diperluas. Pengalaman lintas budaya akan membentuk kepercayaan diri dan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi kompetisi global.
Kelima, pentingnya membangun ekosistem talenta global berbasis nilai Islam. UIN Maliki Malang memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan etika, spiritualitas, dan profesionalisme. Di tengah krisis moral dalam dunia global, nilai-nilai seperti amanah, integritas, dan keadilan justru menjadi kekuatan yang dicari.
Namun, orientasi global bukan berarti meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, globalisasi harus dijadikan ruang untuk memperkenalkan keunggulan Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan rahmatan lil ‘alamin. UIN Maliki Malang dapat menjadi duta intelektual yang membawa wajah Islam Indonesia ke panggung dunia.
Akhirnya, berorientasi global bukan pilihan, melainkan keharusan. Jika tidak bertransformasi, perguruan tinggi akan tertinggal dalam kompetisi yang semakin ketat. UIN Maliki Malang memiliki semua prasyarat untuk menjadi pemain global: tradisi akademik yang kuat, nilai keislaman yang kokoh, dan potensi mahasiswa yang besar. Yang dibutuhkan kini adalah keberanian untuk melangkah, berbenah, dan membuka diri terhadap dunia.
Saatnya UIN Maliki Malang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga menjadi bagian penting dari peta pendidikan tinggi Islam global.