شؤن الطلبة الجامعة – Di tengah percepatan transformasi digital dan tuntutan kompetensi industri 4.0, organisasi mahasiswa berbasis keilmuan seperti Teknik Informatika dituntut tidak hanya aktif secara kegiatan, tetapi juga strategis dalam merancang arah geraknya. Forum Pra-Rapat Kerja (Pra-Raker) dan Buka Bersama Keluarga Besar HIMATIF “ENCODER” pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Lathea, Jl. Simpang Ijen No.3, Malang, menjadi refleksi atas kebutuhan tersebut. Dengan melibatkan 60 fungsionaris dan anggota, kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai pra-agenda formal, melainkan sebagai ruang deliberatif untuk memastikan setiap program kerja berangkat dari kebutuhan riil mahasiswa Informatika.
Ketua Umum Abdul Aziz Maftuh membuka forum dengan memaparkan visi besar organisasi di tengah suasana santai namun substansial. Ia menegaskan, “HIMATIF adalah rumah bagi kita semua. Melalui Pra-Raker yang melibatkan seluruh anggota ini, kita ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil ENCODER adalah hasil dari sinergi dan aspirasi bersama. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas demi kemajuan teknik informatika.” Setelah pemaparan tersebut, diskusi terbuka berlangsung dinamis. Setiap divisi mempresentasikan draf program kerja, sementara anggota diberi ruang menyampaikan kritik, koreksi, hingga gagasan inovatif. Model ini menunjukkan pendekatan bottom-up yang jarang dioptimalkan dalam forum pra-perencanaan organisasi mahasiswa.
Secara substantif, forum ini memiliki implikasi strategis terhadap tata kelola organisasi berbasis partisipasi. Di tengah tantangan mahasiswa Teknik Informatika—mulai dari kebutuhan peningkatan hard skill, literasi kewirausahaan digital, hingga kesiapan menghadapi ekosistem startup dan industri teknologi—perencanaan program tidak bisa disusun secara elitis. Sense of belonging yang ditekankan dalam Pra-Raker menjadi variabel penting dalam keberhasilan implementasi program. Organisasi yang inklusif cenderung memiliki tingkat partisipasi dan keberlanjutan program yang lebih tinggi, karena anggota merasa terlibat sejak tahap perencanaan.
Kepala Pusat Kemahasiswaan Universitas menilai pendekatan partisipatif dalam Pra-Raker sebagai praktik tata kelola yang selaras dengan arah pembinaan kemahasiswaan di perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa forum yang membuka ruang aspirasi luas akan memperkuat legitimasi kebijakan internal organisasi sekaligus melatih mahasiswa dalam praktik demokrasi deliberatif. Menurutnya, organisasi mahasiswa bidang teknologi memiliki tanggung jawab tambahan untuk menjadi motor inovasi sekaligus menjaga soliditas internal melalui komunikasi dua arah yang sehat.
Pra-Raker HIMATIF ENCODER pada akhirnya memperlihatkan pergeseran paradigma dari sekadar penyusunan agenda menuju pembangunan kesadaran kolektif. Jika pola deliberatif ini terus dipertahankan hingga tahap evaluasi program, maka organisasi tidak hanya akan menghasilkan kegiatan yang variatif, tetapi juga berdampak dan berkelanjutan. Di tengah dinamika dunia teknologi yang terus berubah, kekuatan utama organisasi mahasiswa bukan hanya pada kecanggihan programnya, melainkan pada soliditas dan partisipasi anggotanya dalam merumuskan masa depan bersama.





