Oleh. Prof. Triyo Supriyatno, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tanggal 20 Mei selalu hadir sebagai pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit dari keterpurukan melalui kesadaran kolektif. Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang berdirinya organisasi modern pribumi pada awal abad ke-20, melainkan momentum untuk menyalakan kembali api perjuangan dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Pada peringatan ke-118 tahun 2026, tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menjadi refleksi mendalam atas tantangan Indonesia hari ini sekaligus arah masa depannya.
Logo Harkitnas 2026 menghadirkan angka “118” dengan dominasi warna biru dan kuning keemasan. Warna biru melambangkan kepercayaan, ketangguhan, dan harapan masa depan, sedangkan kuning keemasan mencerminkan energi, optimisme, dan kemakmuran. Di dalam angka tersebut terdapat simbol kepala Garuda dan daun kehidupan. Dua elemen ini sesungguhnya menyampaikan pesan besar: bangsa yang kuat lahir dari generasi muda yang dijaga, dididik, dan diberdayakan.
Kebangkitan nasional pada era sekarang tidak lagi dimaknai semata sebagai perjuangan mengusir penjajah fisik. Tantangan bangsa telah berubah bentuk. Penjajahan modern hadir melalui lemahnya karakter, krisis moral, ketergantungan ekonomi, disinformasi digital, hingga lunturnya rasa cinta tanah air. Karena itu, menjaga “tunas bangsa” berarti menjaga generasi muda dari kehilangan identitas, arah hidup, dan semangat kebangsaan.
Anak-anak muda Indonesia hari ini hidup dalam arus globalisasi yang sangat cepat. Mereka memiliki akses ilmu pengetahuan tanpa batas, tetapi juga menghadapi ancaman budaya instan, individualisme, dan degradasi etika. Di sinilah keluarga, sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan negara harus hadir secara bersama-sama. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan manusia yang berintegritas, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa.
Tema Harkitnas 2026 juga mengingatkan bahwa kedaulatan negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau politik, tetapi oleh kualitas manusianya. Bangsa yang rakyatnya malas berpikir, mudah terpecah, dan kehilangan karakter akan sulit menjadi bangsa yang berdaulat. Sebaliknya, negara akan kokoh apabila generasi mudanya memiliki daya juang, kreativitas, spiritualitas, dan semangat gotong royong.
Simbol daun dalam logo Harkitnas mengandung makna pangan, pertumbuhan, dan keberlanjutan. Ini menjadi pesan penting bahwa kebangkitan nasional harus dimulai dari kemandirian. Bangsa yang bergantung penuh pada bangsa lain dalam urusan pangan, teknologi, dan ekonomi akan selalu berada dalam posisi rentan. Oleh sebab itu, kebangkitan generasi muda harus diarahkan pada penguatan inovasi, riset, kewirausahaan, dan kecintaan terhadap produk serta potensi bangsa sendiri.
Di tengah berbagai tantangan global, Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial dan budaya yang besar. Semangat gotong royong, nilai religiusitas, dan keberagaman adalah kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara. Namun kekuatan itu hanya akan menjadi slogan apabila tidak diwariskan secara serius kepada generasi muda. Karena itu, menjaga tunas bangsa berarti juga menjaga nilai-nilai luhur bangsa agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kebangkitan nasional juga harus dimulai dari hal-hal sederhana: membangun budaya membaca, menghargai ilmu, menjaga etika bermedia sosial, mencintai lingkungan, disiplin dalam bekerja, serta menghormati perbedaan. Perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat bambu runcing, tetapi membangun kualitas diri dan peradaban bangsa.
Pada akhirnya, Harkitnas 20 Mei 2026 mengajarkan bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alamnya, tetapi oleh seberapa serius bangsa ini menjaga tunas-tunas mudanya. Jika generasi muda tumbuh dengan ilmu, karakter, dan cinta tanah air, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat dan berdaulat. Namun jika generasi mudanya kehilangan arah, maka ancaman terbesar bangsa justru datang dari dalam dirinya sendiri.
Momentum Kebangkitan Nasional harus menjadi ajakan bersama untuk kembali meneguhkan komitmen kebangsaan. Menjaga tunas bangsa bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Sebab dari tangan generasi mudalah arah Indonesia masa depan akan ditentukan: menjadi bangsa yang besar dan bermartabat, atau justru kehilangan jati dirinya di tengah arus zaman.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-118.
Mari menjaga tunas bangsa demi tegaknya kedaulatan negara.