Oleh: Triyo Supriyatno, Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Di antara warna-warni kehidupan, ada satu warna yang kerap terlupakan dalam palet kasih sayang manusia: warna ayah. Jika ibu diibaratkan sebagai pelangi lembut yang memberi kesejukan dan kehangatan, maka ayah adalah langit yang menampung pelangi itu — luas, diam, tetapi kokoh menopang segala yang ada di bawahnya. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, peran ayah sering kali tenggelam dalam hiruk pikuk pencapaian material dan tuntutan sosial. Padahal, di balik setiap keberhasilan anak, setiap kemandirian, dan setiap doa yang diam-diam terkabul, ada jejak tangan ayah yang bekerja dalam sunyi.
Kita sering mendengar sabda Nabi Muhammad SAW bahwa “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” Ungkapan itu benar adanya, namun tidak berarti mengurangi keagungan figur ayah. Dalam banyak hadis, doa dan ridha ayah juga disebut sebagai kunci keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, “Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi). Kata “orang tua” dalam konteks ini mencakup ibu dan ayah — dua sosok yang dalam diam dan kata membentuk keseimbangan kasih dan arah hidup anak-anaknya.
Ayah adalah figur pendidikan pertama yang memperkenalkan dunia luar kepada anak. Jika ibu menanamkan rasa, ayah menanamkan arah. Dari ayah, anak belajar tentang tanggung jawab, keuletan, kejujuran, dan keteguhan. Dalam banyak keluarga, sosok ayah menjadi “kompas moral” yang menuntun arah perjalanan anak. Ia mungkin tidak selalu hadir dalam wujud pelukan, tetapi hadir dalam keputusan, dalam contoh, dalam kesederhanaan hidup yang penuh tanggung jawab.
Namun, tantangan zaman kini membuat figur ayah mengalami transformasi besar. Dalam keluarga modern, ayah sering kehilangan ruang emosionalnya. Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, dan derasnya budaya konsumtif membuat ayah terjebak dalam peran fungsional semata: bekerja, pulang, lalu lelah. Fenomena fatherless — ketiadaan figur ayah secara emosional meski hadir secara fisik — menjadi isu global yang juga mulai merasuki masyarakat kita. Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa merasa memiliki sosok pelindung dan penuntun spiritual dalam keluarga.
Padahal, ayah yang hadir secara emosional adalah rahmat besar bagi perkembangan anak. Ia tidak hanya mendidik dengan kata-kata, tetapi dengan keteladanan. Ketika anak melihat ayahnya bangun pagi untuk salat Subuh, bekerja keras tanpa mengeluh, menghormati ibunya, atau bersikap jujur dalam urusan kecil, di situlah anak belajar tentang makna hidup yang sejati. Pendidikan karakter sejati sesungguhnya dimulai dari figur ayah di rumah. Tindakan ayah adalah kitab terbuka yang dibaca anak setiap hari — tanpa suara, tetapi penuh makna.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab ayah bukan hanya soal nafkah material, tapi juga spiritual. Ayah adalah qawwam — pemimpin dan penjaga keluarga, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34).
Ayat ini bukan legitimasi kekuasaan patriarkal, melainkan penegasan bahwa ayah memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk melindungi, membimbing, dan mencerdaskan keluarganya.
Di tengah arus digital yang deras, peran ayah sebagai penjaga nilai semakin penting. Ketika anak-anak lebih akrab dengan layar gawai daripada wajah orang tua, ayah perlu hadir bukan dengan amarah, melainkan dengan dialog. Bukan dengan larangan tanpa penjelasan, tetapi dengan keteladanan dan kedekatan emosional. Ayah yang cerdas pada era digital bukan hanya pencari nafkah, tetapi life mentor bagi anak-anaknya — penuntun yang memahami pergulatan batin anak, sekaligus penjaga kompas moral di tengah kabut nilai globalisasi.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam banyak kajian pendidikannya menekankan pentingnya pendidikan berbasis keteladanan — nilai yang sesungguhnya berakar kuat dalam figur ayah. Teladan bukan hanya kata, melainkan tindakan yang konsisten. Seorang ayah yang mampu mengelola emosi, menghargai perbedaan, menanamkan disiplin, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sedang membangun masa depan generasi dengan pondasi kuat. Ia adalah warna biru dalam pelangi kehidupan — teduh, luas, dan menenangkan.
Kini, sudah saatnya kita mengembalikan warna ayah ke dalam pelangi kehidupan keluarga. Tidak cukup hanya mengagungkan peran ibu, kita juga perlu merayakan ketulusan ayah. Sosok yang mungkin jarang berkata “aku mencintaimu”, tetapi menunjukkan cintanya lewat keringat di dahi dan doa di sepertiga malam. Sosok yang mungkin tidak pandai menulis puisi, tetapi menuliskan cinta dalam setiap usaha agar anak-anaknya tidak kekurangan.
Pelangi kehidupan tidak akan indah jika salah satu warnanya hilang. Begitu pula keluarga, tidak akan utuh tanpa kasih ayah yang hadir dengan kebijaksanaan dan ketegasannya. Dalam sunyi, ayah adalah doa yang tidak bersuara, tangan yang tidak meminta balas, dan hati yang terus berharap anak-anaknya menjadi insan yang saleh dan bahagia. Maka, ketika kita berbicara tentang cinta dan pengorbanan, jangan lupa menatap ke arah langit tempat pelangi itu muncul — di sana ada ayah, yang mungkin tak terlihat, tapi selalu ada.
Selamat Hari Ayah – 12 November 2025 Semoga Semua Ayah menjadi Pelangi bagi Keluarga nya. Aamiin YRA