MIU Login

Mengapa Maba UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Perlu Tinggal di Ma’had selama 1 Tahun?

Oleh. Prof. Triyo Supriyatno
Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Ada pertanyaan sederhana yang sering luput dalam pembicaraan tentang pendidikan tinggi: untuk apa sebenarnya universitas mendidik manusia?

Apakah hanya agar mahasiswa mendapatkan nilai tinggi, lulus tepat waktu, memperoleh ijazah, kemudian mendapatkan pekerjaan?

Tentu tidak.

Universitas seharusnya menyiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan. Sebab setelah wisuda, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan dunia kerja. Mereka akan berhadapan dengan kegagalan, persaingan, konflik, perubahan, kehilangan, tekanan sosial, godaan materialisme, krisis makna, dan berbagai persoalan kehidupan yang tidak pernah tercantum dalam lembar ujian.

Di sinilah keberadaan Ma’had di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menemukan relevansinya.

Ma’had bukan sekadar asrama tempat mahasiswa tinggal. Ia dapat dipandang sebagai laboratorium kehidupan, tempat mahasiswa belajar menjadi manusia: mengenal Tuhan, mengenal dirinya, belajar hidup bersama orang lain, sekaligus belajar menghadapi kesulitan.

Dalam konteks pendidikan UIN Malang yang mengembangkan paradigma Ulul Albab, pendidikan ideal tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual. Ia harus melahirkan manusia yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan ilmu, kematangan profesional, keagungan akhlak, dan kesiapan menghadapi kehidupan.

Karena itu, Ma’had memiliki peran strategis dalam mengasah dua kecerdasan yang semakin penting bagi generasi muda Gen Z: Spiritual Quotient (SQ) dan Adversity Quotient (AQ).

SQ: Mengajarkan Mahasiswa Memiliki Arah

Kecerdasan spiritual sering disalahpahami sebagai sekadar kemampuan menjalankan ritual keagamaan.

Padahal, SQ jauh lebih dalam.

Kecerdasan spiritual menyangkut kemampuan manusia menemukan makna, nilai, tujuan, dan orientasi dalam kehidupannya. Seseorang dengan kecerdasan spiritual yang baik tidak hanya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”, tetapi juga bertanya, “Untuk apa saya melakukan ini?”

Pertanyaan tersebut sangat penting bagi mahasiswa.

Sebab ilmu tanpa orientasi moral dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa nilai dapat berubah menjadi alat untuk mengejar kepentingan diri sendiri. Teknologi tanpa spiritualitas dapat melahirkan manusia yang semakin kuat secara kemampuan, tetapi semakin lemah dalam kebijaksanaan.

Ma’had mempunyai ruang yang sangat luas untuk membangun kesadaran tersebut.

Bangun sebelum subuh, shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, mengikuti ta’lim, belajar bahasa Arab, berdiskusi, menghormati pembina, menjaga kebersihan, hidup bersama teman yang berbeda latar belakang, dan mengikuti kegiatan bersama bukan sekadar rutinitas.

Jika dikelola dengan pendekatan pendidikan yang tepat, semua itu merupakan latihan spiritual dan karakter.

Mahasiswa belajar bahwa disiplin bukan hanya kewajiban administratif. Disiplin adalah bentuk tanggung jawab.

Ia belajar bahwa ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ibadah adalah cara membangun hubungan dengan Allah sekaligus membentuk kepribadian.

Ia belajar bahwa hidup bersama bukan hanya soal berbagi kamar. Hidup bersama adalah belajar menghormati manusia lain.

Dengan demikian, spiritualitas tidak berhenti di masjid. Ia dibawa ke ruang kelas, organisasi mahasiswa, kehidupan sosial, dunia digital, bahkan kelak ke dunia profesi.

Inilah tantangan penting Ma’had: mengubah agama dari sekadar pengetahuan menjadi kesadaran dan perilaku.

AQ: Belajar Tidak Menyerah

Selain SQ, mahasiswa juga membutuhkan Adversity Quotient, yakni kemampuan menghadapi kesulitan, tekanan, kegagalan, dan berbagai tantangan kehidupan.

Kita hidup di zaman yang menarik.

Generasi muda memiliki akses informasi yang luar biasa besar, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan psikologis dan sosial yang juga semakin kompleks. Media sosial membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Prestasi teman terlihat setiap hari. Kesuksesan orang lain hadir di layar telepon. Sementara kegagalan pribadi sering dirasakan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.

Akibatnya, sebagian anak muda tumbuh dengan keinginan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi tidak selalu siap menghadapi kegagalan.

Padahal kehidupan tidak demikian.

Tidak semua ujian menghasilkan nilai tinggi.

Tidak semua usaha menghasilkan keberhasilan.

Tidak semua harapan menjadi kenyataan.

Dan tidak semua perjalanan berlangsung lurus.

Karena itu, mahasiswa harus belajar satu kemampuan yang sangat penting: bangkit kembali.

Di sinilah kehidupan Ma’had sebenarnya menjadi ruang pendidikan AQ yang sangat potensial.

Mahasiswa yang sebelumnya tinggal nyaman bersama keluarga harus belajar mengatur dirinya sendiri. Mereka belajar bangun tepat waktu. Belajar membagi waktu. Belajar mengikuti aturan. Belajar menghadapi perbedaan karakter teman. Belajar menyelesaikan konflik. Belajar menerima kritik. Belajar menghadapi tugas akademik yang berat.

Bagi sebagian mahasiswa, semua itu mungkin terasa sederhana.

Tetapi sesungguhnya, di sanalah karakter dibentuk.

Ketika seseorang gagal bangun pagi lalu berusaha memperbaikinya, ia sedang belajar disiplin.

Ketika seseorang gagal dalam ujian lalu belajar lebih keras, ia sedang membangun ketangguhan.

Ketika seseorang berselisih dengan teman lalu belajar meminta maaf, ia sedang belajar kedewasaan.

Ketika seseorang mengalami kegagalan tetapi memilih mencoba kembali, ia sedang membangun AQ.

Dengan kata lain, kesulitan yang dikelola dengan baik dapat menjadi guru yang sangat berharga.

Jangan Salah Memahami Ketangguhan

Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi.

Membangun AQ tidak berarti membuat mahasiswa terus-menerus berada dalam tekanan.

Ketangguhan bukan berarti seseorang tidak boleh lelah.

Ketangguhan bukan berarti tidak boleh menangis.

Ketangguhan bukan berarti harus selalu kuat sendirian.

Justru manusia yang tangguh adalah manusia yang mampu mengenali kelemahannya, meminta bantuan ketika diperlukan, belajar dari kegagalan, kemudian kembali berdiri.

Karena itu, pembinaan Ma’had harus menggabungkan tantangan dan pendampingan.

Mahasantri perlu diberi disiplin, tetapi juga perlu dipahami.

Perlu diberi target, tetapi juga perlu diberi ruang refleksi.

Perlu belajar mandiri, tetapi juga harus merasa bahwa ada pembina yang siap mendampingi.

Di sinilah kualitas musyrif dan musyrifah menjadi sangat penting.

Mereka bukan sekadar pengawas aturan.

Mereka adalah pendidik, pendamping, sekaligus teladan.

Mahasiswa mungkin lupa apa yang disampaikan dalam sebuah ceramah. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana seorang pembina memperlakukan mereka ketika sedang menghadapi masalah.

Keteladanan sering kali lebih kuat daripada nasihat.

SQ dan AQ: Dua Sayap Mahasantri

SQ dan AQ sebaiknya tidak dipisahkan.

SQ memberikan arah, AQ memberikan daya tahan.

SQ membuat manusia bertanya, “Apa yang benar?”

AQ membuatnya mampu tetap memperjuangkan kebenaran ketika jalan yang ditempuh tidak mudah.

SQ membuat seseorang memiliki harapan kepada Allah.

AQ membuat seseorang tetap berusaha meskipun hasil belum terlihat.

SQ membentuk manusia yang memiliki nilai.

AQ membentuk manusia yang tidak mudah menyerah.

Keduanya menjadi sangat penting bagi cita-cita pendidikan Ulul Albab.

Manusia Ulul Albab bukan manusia yang hanya pandai berbicara tentang agama. Ia juga bukan manusia yang hanya unggul secara akademik.

Ia adalah manusia yang mampu mempertemukan pikiran, hati, dan tindakan.

Ilmunya memberi cahaya.

Imannya memberi arah.

Akhlaknya memberi keteladanan.

Dan ketangguhannya membuat ia mampu menghadapi zaman.

Ma’had Sebagai Laboratorium Kehidupan

Karena itu, ke depan Ma’had UIN Malang perlu terus bergerak dari paradigma “asrama pembinaan mahasiswa” menuju “laboratorium pembentukan manusia.”

Perubahan paradigma ini penting.

Setiap aktivitas Ma’had harus memiliki tujuan pendidikan yang jelas.

Ro’an, misalnya, tidak sekadar membersihkan lingkungan, tetapi membangun tanggung jawab dan kepedulian.

Halaqah tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi ruang refleksi dan dialog.

Shalat berjamaah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi latihan disiplin dan kebersamaan.

Kegiatan sosial bukan sekadar program, tetapi pendidikan empati.

Organisasi bukan sekadar tempat mendapatkan pengalaman, tetapi ruang belajar kepemimpinan dan penyelesaian konflik.

Bahkan persoalan dan pelanggaran mahasiswa dapat dijadikan bahan pendidikan, bukan semata-mata alasan untuk memberikan hukuman.

Pendekatan seperti ini akan membuat Ma’had lebih hidup.

Mahasantri tidak hanya bertanya, “Apa aturan yang harus saya ikuti?”

Mereka mulai bertanya, “Nilai apa yang sedang saya pelajari?”

Itulah perbedaan antara pendidikan yang sekadar mengatur perilaku dengan pendidikan yang membentuk kesadaran.

Ukuran Keberhasilan Ma’had Bukan Hanya Saat Mahasantri Berada di Dalamnya

Ada ukuran keberhasilan Ma’had yang lebih penting daripada sekadar tingkat kehadiran dalam kegiatan.

Ukuran itu adalah: apa yang terjadi setelah mahasiswa meninggalkan Ma’had?

Apakah mereka tetap memiliki kebiasaan baik?

Apakah mereka tetap dekat dengan Al-Qur’an?

Apakah mereka tetap mampu menjaga integritas ketika tidak diawasi?

Apakah mereka mampu mengelola konflik?

Apakah mereka tidak mudah menyerah ketika gagal?

Apakah mereka mampu menggunakan ilmu untuk memberi manfaat?

Jika nilai-nilai itu tetap hidup setelah mereka meninggalkan Ma’had, berarti pendidikan telah berhasil.

Sebab pendidikan yang baik bukan pendidikan yang membuat mahasiswa bergantung selamanya kepada aturan.

Pendidikan yang baik justru membuat seseorang mampu mengatur dirinya sendiri ketika tidak ada lagi yang mengawasi.

Inilah yang seharusnya menjadi orientasi pendidikan Ma’had.

Dari Ma’had untuk Indonesia

Pada akhirnya, Ma’had UIN Malang memiliki tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar membentuk mahasiswa yang religius.

Ia mempunyai peluang membentuk generasi yang religius sekaligus rasional, lembut sekaligus tangguh, kritis sekaligus santun, berilmu sekaligus berakhlak.

Generasi seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia.

Kita membutuhkan dokter yang bukan hanya ahli mengobati, tetapi memiliki empati.

Kita membutuhkan guru yang bukan hanya menguasai materi, tetapi mampu menjadi teladan.

Kita membutuhkan birokrat yang bukan hanya memahami administrasi, tetapi memiliki integritas.

Kita membutuhkan pengusaha yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi memiliki tanggung jawab sosial.

Kita membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu memenangkan kompetisi, tetapi mampu menjaga martabat manusia.

Semua itu tidak cukup dibentuk oleh ruang kuliah.

Ia membutuhkan ekosistem pendidikan yang menyentuh kepala sekaligus hati.

Dan Ma’had dapat menjadi salah satu ruang penting untuk itu.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak boleh hanya bertanya:

“Seberapa pintar mahasiswa kita?”

Kita juga harus bertanya:

“Seberapa dalam jiwanya?”

“Seberapa kuat ia menghadapi kesulitan?”

“Seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada orang lain?”

Sebab dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar.

Dunia membutuhkan manusia yang bermakna.

Ma’had UIN Malang mempunyai kesempatan besar untuk melahirkan manusia seperti itu: manusia yang memiliki akar spiritual yang kuat, pikiran yang terbuka, hati yang teduh, dan keberanian untuk menghadapi badai kehidupan.

SQ membuat mahasantri tahu ke mana harus melangkah. AQ membuat mereka tidak berhenti ketika jalan terasa berat. Dan pendidikan Ulul Albab menyatukan keduanya menjadi manusia yang berilmu, beriman, tangguh, dan bermanfaat.

Barangkali, inilah makna terdalam Ma’had: bukan sekadar tempat tinggal sebelum menjadi sarjana, tetapi tempat menempa manusia sebelum terjun menghadapi kehidupan.

Berita Terkait