شؤن الطلبة الجامعة – Di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap aktivitas alam bebas, tantangan keselamatan dan profesionalisme dalam kegiatan pendakian menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Aktivitas gunung bukan sekadar ekspresi petualangan, tetapi ruang pembelajaran tentang manajemen risiko, disiplin, dan tanggung jawab kolektif. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi langkah MAPALA TURSINA dalam memastikan setiap anggota muda tidak hanya berani secara fisik, tetapi matang secara pengetahuan sebelum terjun ke lapangan.
Dalam rangkaian Pendidikan Angkatan XXX, pematerian mountaineering digelar pada Sabtu, 28 Februari 2026, mulai pukul 09.00 WIB di Sekretariat MAPALA TURSINA. Kegiatan ini melibatkan empat anggota muda sebagai peserta dan dua anggota biasa sebagai pemateri sekaligus koordinator divisi. Risqi Ramadhan (Tupen) memandu materi secara komprehensif, membedah konsep dasar mountaineering mulai dari terminologi gunung, sejarah perkembangan pendakian sejak sebelum abad ke-17 hingga abad ke-21, hingga teknik pendakian seperti Alpin Taktik, Himalayan Taktik, dan Siege Taktik. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan, “Pendakian bukanlah kegiatan sembarangan, ketahuilah ilmu mendaki sebelum melakukan pendakian.” Diskusi berlangsung interaktif, menekankan bahwa pengetahuan adalah fondasi utama sebelum praktik lapangan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa berbasis minat dan bakat pun bergerak menuju standar yang lebih profesional. Di tengah tren pendidikan tinggi yang mendorong penguatan soft skills berbasis pengalaman, kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa pembinaan mahasiswa tidak hanya tentang aktivitas, tetapi tentang mitigasi risiko, literasi teknis, dan budaya keselamatan. Pemahaman terminologi dan teknik pendakian yang sistematis mencerminkan komitmen MAPALA TURSINA terhadap tata kelola kegiatan yang bertanggung jawab, sekaligus sejalan dengan arah universitas dalam membentuk mahasiswa yang tangguh secara intelektual dan etis.
Salah satu anggota muda mengungkapkan bahwa materi yang diterima mengubah cara pandangnya terhadap pendakian. “Saya dulu mengira mendaki hanya soal fisik dan keberanian. Setelah mengikuti pematerian ini, saya sadar bahwa memahami teknik dan risiko adalah bagian dari tanggung jawab,” tuturnya. Kepala Pusat Kemahasiswaan Universitas Dr. Romi, menilai kegiatan seperti ini sebagai bentuk konkret pembinaan karakter mahasiswa. Ia menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan yang mengedepankan literasi keselamatan dan kesiapan konseptual menunjukkan kedewasaan tata kelola serta selaras dengan komitmen universitas dalam menciptakan lingkungan kegiatan mahasiswa yang aman dan terarah.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, pematerian mountaineering ini menandai upaya konsolidasi nilai profesionalisme dalam budaya pecinta alam kampus. Ketika ilmu ditempatkan sebagai prasyarat sebelum aksi, maka organisasi tidak hanya melahirkan pendaki, tetapi pembelajar yang bertanggung jawab. Langkah kecil di ruang sekretariat itu berpotensi menjadi fondasi jangka panjang bagi praktik kegiatan alam bebas yang lebih aman, terukur, dan sejalan dengan transformasi universitas menuju ekosistem kemahasiswaan yang berintegritas dan berkelanjutan.





