MIU Login

HMPS Ilmu Hadis UIN Malang Bedah Etika Bermedia Sosial Lewat Kajian Hadis

Kemahasiswaan Universitas — Percakapan soal etika bermedia sosial mengemuka dalam kajian formal yang digelar HMPS Ilmu Hadis UIN Malang, Sabtu (16/5/2026). Bertempat di Baitul Jannah, rumah salah satu kader HMPS, diskusi bertajuk “Silent Is Better? Analisis Hadis Tentang Diam dan Bicara di Tengah Budaya Media Sosial” itu membahas satu hal yang kini semakin relevan: bagaimana menjaga lisan di ruang digital yang serba cepat dan penuh respons spontan.

Sebanyak 15 peserta mengikuti kajian yang berlangsung sejak pukul 16.00 WIB hingga selesai. Suasana forum berlangsung santai namun tetap kritis. Peserta duduk melingkar sambil mendiskusikan fenomena komentar negatif, penyebaran informasi tanpa verifikasi, hingga budaya saling serang di media sosial.

Kajian dibuka dengan pembacaan hadis Arbain Nawawi ke-15 riwayat Imam Bukhari dan Muslim tentang anjuran berkata baik atau diam. Hadis tersebut kemudian menjadi titik pembahasan utama mengenai batas etika berbicara, baik secara langsung maupun melalui media digital.

Narasumber, Muhammad Rafi Al Hakim, menyoroti perubahan cara manusia berkomunikasi di era media sosial. Menurutnya, menjaga lisan saat ini tidak lagi terbatas pada ucapan verbal, tetapi juga mencakup aktivitas mengetik, berkomentar, dan menyebarkan informasi.

“Di era media sosial, menjaga lisan bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui apa yang kita ketik, komentari, dan sebarkan,” ujarnya dalam sesi diskusi.

Pembahasan berkembang pada makna “diam” dalam perspektif hadis. Peserta diajak memahami bahwa sikap diam bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan kontrol diri agar tidak mudah melontarkan perkataan yang berpotensi melukai orang lain atau memicu konflik di ruang publik digital.

Sesi tanya jawab menjadi bagian paling hidup dalam kajian tersebut. Beberapa peserta mengaitkan materi dengan fenomena hate comment, budaya canceling, hingga kebiasaan menyebarkan ulang informasi tanpa mengecek sumber. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan yang muncul dari pengalaman peserta sehari-hari saat menggunakan media sosial.

Ketua HMPS Ilmu Hadis, Athoillah Bahar, menyebut kajian formal ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa agar lebih sadar terhadap dampak komunikasi digital. Ia berharap forum semacam ini dapat terus menjadi wadah diskusi yang dekat dengan persoalan nyata di kalangan mahasiswa.

Kegiatan ditutup menjelang malam dengan dokumentasi bersama dan pengumpulan video publikasi kegiatan untuk kebutuhan media sosial organisasi.


Ikuti informasi dan kegiatan mahasiswa lainnya melalui media sosial resmi Kemahasiswaan UIN Malang:
Instagram/FB/TikTok: @kemahasiswaanuinmlg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait