Kemahasiswaan Universitas — Gerakan serempak ratusan peserta dalam balutan dobok putih mengubah suasana depan Gedung B menjadi arena latihan terbuka. UKM Tae Kwon Do UIN Maliki Malang menggelar latihan bersama yang mempertemukan anggota lintas ranting dalam satu ritme.
Sebanyak 245 peserta terlibat dalam kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 April 2026 tersebut. Skala ini menghadirkan dinamika yang berbeda dibanding latihan rutin. Ruang yang biasanya terpisah oleh jadwal dan kelompok, kali ini dilebur dalam satu forum yang sama.
Latihan dipandu langsung oleh pelatih dan senior, dengan penekanan pada penguatan teknik dasar serta daya tahan fisik. Namun yang tampak menonjol justru bagaimana peserta berusaha menjaga keselarasan gerak. Koordinasi menjadi titik penting, terutama ketika ratusan orang harus bergerak dalam tempo yang sama.
Ketua Umum UKM, Pandhu Syach Aryanto, mengarahkan jalannya latihan dengan fokus pada pembentukan pola kerja tim. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kemampuan individu saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kekompakan kolektif.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang temu antaranggota dari berbagai ranting. Interaksi yang terbangun berlangsung lebih cair, tanpa sekat formal yang biasanya muncul dalam forum organisasi. Dari situ, komunikasi terbentuk secara alami.
Pendiri UKM Tae Kwon Do Indonesia UIN Maliki Malang, Arif Suyono, menekankan pentingnya momentum tersebut. “Momentum berkumpulnya ratusan praktisi Tae Kwon Do hari ini adalah peluang emas yang harus kita syukuri. Ini bukan hanya soal mengasah fisik, tetapi tentang bagaimana kita merajut keakraban, kekompakan, dan kebersamaan untuk memaksimalkan potensi organisasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya bertumpu pada capaian prestasi, tetapi pada kualitas hubungan antaranggota. Latihan lintas ranting dinilai perlu dijaga sebagai ruang untuk menyatukan arah dan menjaga ritme perkembangan.
Kegiatan ini memperlihatkan satu kecenderungan baru dalam pengelolaan organisasi mahasiswa. Latihan tidak lagi berdiri sebagai rutinitas, melainkan dimanfaatkan sebagai sarana konsolidasi. Dari pola seperti ini, fondasi organisasi dibangun bukan hanya untuk menghadapi kompetisi, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan di dalamnya..





